Arthur meringis menahan silau ketika dokter membuka perban matanya. "Jangan terlalu dipaksakan dulu, Tuan!" kata dokternya memberi saran. Arthur mengangguk, matanya juga masih terasa perih dan sakit. Hanya saja sedikit berkurang karena serpihan besi itu sudah bersih. "Coba buka mata pelan-pelan," kata dokter, "lalu katakan apa yang Anda lihat." Arthur mengerjap perlahan, membuka kelopak mata, membiarkan cahaya masuk dan retinanya beradaptasi. Sampai akhirnya matanya terbuka sepenuhnya. Arthur mengedarkan pandangan, melihat ke sekeliling. "Apa Anda bisa melihat objek di sana?" tanya dokter menunjuk ke lukisan bunga di dinding. Arthur mengikuti arah telunjuk dokter itu, tapi tatapannya jatuh pada Lintang. Dia bisa melihat wanita itu di sana, memandang memperhatikannya juga. Hanya sa

