“Sayang, kamu nggak apa-apa kalau saya tinggal sebentar?” Darren duduk di tepi kasur, tubuhnya sedikit ke depan untuk menatap wajah Alena yang pucat namun sekarang sudah lebih tenang. “Keandre baru pulang. Saya mau ngecek dia dulu di rumah.” Mangkuk kosong dan piring kotor yang tadi dipakai makan malam sudah ia letakkan rapi di atas nakas. Alena bersandar pada tumpukan bantal, selimut menutupi tubuhnya hingga perut. Nafasnya masih pendek, tapi jauh lebih stabil dibanding tadi pagi. Ia mengangguk pelan. “Nggak apa-apa, Om. Aku disini aja. Pulang dulu nggak apa, liat Keandre… aku juga udah mendingan kok.” Suaranya serak, tapi jelas. “Kalau ada apa-apa, aku telepon saat itu juga.” Darren mengerutkan kening, belum puas dengan jawaban itu. “Tapi beneran kamu kuat kalau saya tinggal?” Alena

