Sonya dan Keandre duduk berdampingan di depan meja dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan wajah tenang dan sikap profesional yang menunjukkan betapa berpengalamannya ia dalam menangani pasien. Ruangan itu steril, beraroma lembut antiseptik, namun justru membuat kedua anak muda itu semakin gugup. Dokter menurunkan kacamata bacanya sedikit, menatap hasil USG dan catatan singkat di tangannya. “Baik, saya jelaskan pelan-pelan, ya,” katanya dengan suara lembut namun tegas. Sonya menegakkan tubuh, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Keandre duduk kaku di sebelahnya, lututnya bergoyang kecil tanpa ia sadari. “Kandungannya sudah memasuki usia enam minggu,” lanjut sang dokter sambil memutar layar USG ke arah mereka. “Detak jantung janin sudah terlihat dan sejauh ini

