Ucapan tegas dari Darren membuat jantung Keandre semakin berdegup tidak menentu. Ia duduk dengan gusar di sofa, terlihat sekali dari raut wajahnya yang pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Apalagi tatapan tenang dari Pak Rusdi yang sesekali melirik ke arahnya membuat ia semakin gelisah. "Pa, emangnya apa sih?" Keandre mencoba bersuara, tangannya gemetar. "Pa, udah dong. Aku kan udah nikah, jadi kepala rumah tangga. Biarin aku urus rumah tanggaku sendiri." Keandre mencoba membela dirinya sendiri di tengah tekanan dua orang di hadapannya. Dadanya naik turun cepat, matanya bergerak gelisah dari ayahnya ke Pak Rusdi, lalu kembali ke ayahnya. Darren menatap sang anak dengan sorot tajam, kali ini ia tidak akan membiarkan anaknya memutuskan sendiri demi kebaikan Keandre ju

