Bab 44 - Mandi Bareng

1600 Words

“Urgh…” Alena terbangun dengan tubuh remuk redam. Setiap tarikan napas seperti menarik otot yang sudah koyak, sekadar menggeser pinggul saja sudah cukup membuat rasa nyeri menjalar pelan. Bagian bawahnya nyaris kebas—campuran pegal dan perih yang membuatnya meringis tanpa suara. Ia menoleh. Darren tertidur telungkup, satu lengan tergeletak lemas di samping tubuhnya, napasnya teratur seolah kejadian semalam tak pernah terjadi. Rambutnya acak-acakan, tapi wajahnya damai, sangat bertolak belakang dengan sosok yang membawanya ke puncak berkali-kali sampai Alena lupa berapa ronde mereka lalui. Dengan susah payah ia mencoba duduk. Otot perutnya menegang, desis kecil tak terelakkan. Ia menyibak rambut yang menempel di pipi, lalu bersandar ke sandaran ranjang, mencoba mengatur napas. Tenggoroka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD