Sonya menoleh sekilas ke arah Keandre yang fokus menatap jalan raya pagi ini. Tangan kanannya memegang kemudi dengan santai, sementara tangan kirinya terletak tenang di atas paha Sonya sejak tadi. Jari-jari Keandre sesekali mengelus punggung tangan Sonya, gerakan kecil yang selalu berhasil menenangkan. “Makasih ya, sayang,” ucap Sonya pelan, suaranya masih agak serak, pagi sekali Keandre sudah mengajaknya keluar. “Kamu mau nginep di rumah aku kemarin, apalagi keluargaku lagi nggak ada satu pun. Aku takut banget pas kejadian teror itu.” Keandre menoleh sebentar, sorot matanya lembut. Ia meremas ringan tangan Sonya sebelum kembali fokus ke depan. “Udah tugas aku. Kamu dalam bahaya kemarin, aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian.” Nada suaranya datar, tapi Sonya tahu di balik ketenangan

