Malam Jakarta turun perlahan, lampu-lampu kota menyala satu per satu, membentuk pendar cahaya di tengah langit yang tertutup kabut polusi. Di lantai paling atas gedung Raksadipura Group, Reno berdiri di depan jendela kaca besar ruang kerjanya. Matanya menatap jauh ke arah jalan raya, di mana suara sirene samar-samar terdengar dari kejauhan. Bukan untuk dirinya—belum. Tapi setiap dentingnya terasa seperti alarm yang mengetuk kesadarannya. Namun Reno, dengan segala kesombongannya, menolak mengakuinya. Ia menegakkan bahu, memaksakan diri tersenyum getir. “Mereka bisa mengawasiku. Tapi tidak ada yang bisa menyentuhku,” gumamnya, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Di meja besar penuh dokumen dan laptop, Aji berdiri ragu. Ia baru saja menerima kabar dari orang-orang lapangan bahwa beberapa mo

