“Dan malam itu,” Jayne menelan ludah, menahan getaran suaranya, “ketika Ranu dibawa dari sekolah, saya hampir kehilangan segalanya. Anak saya … dia tidak bersalah, tapi harus menjadi korban dari amarah ayahnya sendiri. Anak saya menangis, dan saya … saya merasa tidak berdaya. Tidak ada seorang pun yang bisa saya andalkan, kecuali … hukum.” Seluruh ruang sidang hening. Bahkan petugas yang biasanya sibuk dengan dokumen berhenti sejenak, terpaku pada kesaksian Jayne. Beberapa wartawan menurunkan kamera mereka, menangkap ekspresi wajah Jayne yang penuh keteguhan dan keberanian. Reno menggeram, tubuhnya semakin tegang, bibirnya menipu senyum sinis, tapi matanya memerah karena rasa frustrasi. Ia merasa kendali yang selama ini ia genggam kini lepas, perlahan namun pasti. Jaksa mengangguk, menan

