Pagi itu, langit Jakarta masih kelabu, sisa hujan semalam meninggalkan embun tipis di kaca jendela. Di kamar tamu rumah Elang, Jayne berdiri di depan cermin. Tangannya gemetar kecil saat merapikan kerah blus biru muda yang ia kenakan. Wajahnya tampak pucat meski ia berusaha menutupi dengan sedikit riasan tipis. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini, ia harus kembali duduk di kursi saksi. Di belakangnya, Elang muncul sambil membawa secangkir teh hangat. “Kamu sudah sarapan?” tanyanya pelan. Jayne menggeleng. “Aku nggak lapar.” Elang menaruh cangkir itu di meja kecil dekat ranjang. Ia kemudian melangkah mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu Jayne. “Jayne … kamu harus punya tenaga. Sidang bisa lama. Kalau kamu lemah, Reno akan senang melihatmu goyah.” Jayne menutup mata sejenak, men

