Reno Nekat.

1154 Words

Reno duduk di kursinya yang empuk, menatap kosong ke arah layar laptop yang penuh dengan angka-angka merah. Sahamnya terus merosot. Telepon dari mitra bisnis datang silih berganti, bukan lagi menawarkan kerja sama, melainkan membicarakan kemungkinan mereka mundur. Setiap suara di seberang sana terdengar sama: penuh kehati-hatian, seolah mereka semua takut terlibat lebih jauh dengan dirinya. Ia meraih cerutu, menyalakannya dengan tangan bergetar. Asap pekat memenuhi ruangan, tapi itu tidak cukup menutupi bau kekalahan yang makin lama makin menusuk. Reno menghela napas panjang. Matanya menyipit, penuh dendam yang menumpuk. “Kalau pintu besar ditutup,” gumamnya, “aku akan pakai pintu kecil.” Dan “pintu kecil” itu, dalam pikirannya, hanyalah satu: Ranu. Reno tahu anak itu adalah kelemahann

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD