Dalam ruang kerja Reno, cahaya mentari menembus tirai jendela. Namun sinarnya tak mampu meringankan beban yang membayangi wajahnya. Ia duduk di kursi mahalnya, memandangi dokumen-dokumen di depannya, tapi pikirannya jauh melayang, tak bisa fokus pada angka-angka yang biasanya menjadi hidupnya. “Siapa yang berani melakukan ini padaku?” Reno bergumam, suaranya serak. Ia mengetuk meja keras-keras, menandakan frustrasi yang mendalam. Sekarang, bukan hanya bisnis yang goyah, tapi seluruh jaringan koneksi yang selama ini ia bangun perlahan runtuh. Selama bertahun-tahun, Raksadipura dikenal kuat. Tak seorang pun berani menantang mereka secara terbuka. Namun kini, semua seolah berbalik. Tender-tender penting, kontraktor yang biasanya tunduk, bahkan beberapa pejabat yang biasa memberi jalan, mula

