Esok Paginya, rumah Elang sibuk seperti sarang lebah. Para bodyguard datang lebih awal dari biasanya, memeriksa pintu, gerbang, hingga sensor keamanan yang sudah dipasang tambahan. Elang berdiri di tengah ruang keluarga, matanya menelusuri setiap sudut rumah, memastikan tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan pihak luar. Kayla berlari-lari di antara sofa dan meja, matanya berbinar-binar. “Papa … rumah ini keren! Rasanya seperti benteng!” Ia menepuk tangan sambil tersenyum lebar, kagum dengan semua sistem yang terlihat rumit dan canggih di rumah papanya sendiri. Ranu duduk di sofa, kedua lututnya ditarik ke d**a, matanya menatap lantai. “Aku … aku merasa terkurung, Om,” katanya lirih. Suara polos itu terdengar jelas di antara deretan peralatan keamanan dan langkah-langkah para bodyguard ya

