Suara palu hakim menggema lagi, menandakan sidang dilanjutkan setelah istirahat siang. Ruang sidang sudah kembali dipenuhi oleh wajah-wajah penuh ekspektasi: wartawan, pengamat hukum, dan beberapa keluarga pejabat yang ingin menyaksikan drama besar ini. Jayne duduk di kursi saksi, tubuhnya tegang, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Jordan menatapnya dari kursi pengacara korban, memberi isyarat dengan anggukan kecil: Kamu bisa, Jayne. Sementara Jayden duduk di belakang, wajahnya dingin tapi sorot matanya penuh proteksi. Reno, di kursi terdakwa, menyandarkan punggung dengan santai seolah ruang sidang itu hanya panggung sandiwara baginya. Senyum sinis tak pernah benar-benar hilang dari bibirnya, bahkan ketika hakim memberi isyarat agar Jaksa Penuntut Umum memulai pemb

