Pagi itu udara di kediaman Raksadipura terasa pengap meski matahari baru saja naik. Reno duduk di ruang tamu dengan rokok di tangan, tatapannya kosong menembus jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Suara televisi menyala, menayangkan berita ekonomi, tapi ia sama sekali tidak memperhatikan. Di dadanya ada perasaan sesak, bercampur amarah yang terus mendidih sejak semalam. Beberapa hari terakhir ia menerima kabar bahwa surat panggilan dari kepolisian sudah dikirimkan. Bukan satu, melainkan tiga kali. Bahkan email resmi pun masuk, menyatakan ia diminta hadir sebagai saksi untuk kasus keuangan yang melibatkan salah satu perusahaannya. Namun Reno menolak semua itu. Baginya, datang memenuhi panggilan sama saja dengan mengakui bahwa dirinya bersalah. “Omong kosong,” gumamnya pelan samb

