Lorong rumah sakit itu sunyi. Lampu neon memantulkan cahaya dingin ke lantai putih yang dipel. Hanya terdengar suara mesin monitor jantung dari ICU yang ritmenya monoton. Rahmi duduk di kursi tunggu sejak sore, wajahnya tampak sembab, seolah benar-benar hancur melihat suaminya—Gatot Raksadipura—terbaring lemah dengan selang infus menusuk pembuluh darahnya. Namun air mata itu hanya topeng. Di balik tatapan redupnya, hati Rahmi bergejolak—bukan karena kesedihan, tapi karena harapan. Harapan agar suaminya benar-benar menyerah pada maut. Harapan agar seluruh harta Raksadipura jatuh ke tangannya. Dan malam itu, harapan itu datang bersama Hans. Pria itu duduk tak jauh dari Rahmi, di kursi tunggu berlapis kain hijau pucat yang berderet di depan ruang ICU. Sejak sore Hans sudah berada di sana,

