Malam itu udara terasa berbeda. Rumah dipenuhi keheningan yang anehnya hangat, seolah seluruh ruangan ikut menahan napas menanti hari besar esok. Jayne duduk di kamar Ranu, menatap putranya yang masih sibuk dengan mobil-mobilan kecil di lantai. Lampu tidur berbentuk bulan memancarkan cahaya temaram, menciptakan suasana teduh. Jayne meraih selimut kecil di ranjang, lalu berkata pelan, “Ranu, sudah malam, Sayang. Besok kita punya hari penting. Kamu harus tidur cukup.” Ranu mendongak, matanya berbinar seperti enggan berhenti. “Mama … besok Mama sama Papa Elang nikah, kan?” Jayne tertegun sejenak, lalu tersenyum. “Iya, Sayang. Besok Mama akan menikah.” Ranu meraih mobilnya lalu duduk bersila di karpet. “Kalau Mama nikah … berarti Papa Elang jadi Papa beneran aku?” suaranya lirih, penuh har

