Langkah Reno membelah keheningan malam. Ruang kerjanya luas, tapi setiap sudut terasa sempit, seolah dinding bergerak mendekat menelannya bulat-bulat. Sepatu kulitnya menimbulkan dentuman berulang di atas lantai marmer, dan suara itu seperti gema kecemasan yang terus membuntutinya. Ia berhenti sejenak, menatap layar laptop. Grafik merah menukik tajam, angka kerugian bertumpuk satu demi satu. Simbol kehancuran itu menusuk matanya, seperti darah segar yang menodai seluruh jerih payahnya. Reno menutup laptop dengan keras, napasnya memburu. “Bangke!” bentaknya, tinjunya menghantam meja kayu hingga gelas kristal di atasnya bergetar dan menumpahkan sisa whiskey. Dua orang anak buahnya—Aji dan Aldi—berdiri di pojok ruangan. Keduanya menunduk, wajah pucat, seolah berdiri di hadapan singa lapar.

