Raiden berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Kepalanya serasa mau meledak saat ini, masalah rumah tangganya ditambah kantor dalam keadaan kacau. Dua komputer dan laptopnya dalam keadaan layar biru sepenuhnya. "b******k!" umpatnya sambil melempar map dokumen ke sembarang arah. Dia mendesah keras dan berakhir duduk di kursi dan menumpu kepalanya dengan kedua tangan. Sekar ... "Ya Tuhan, aku merasa hilang tanpa kamu, Sekar!" hembusnya semakin menunduk dalam. Zidan muncul dan masuk, dia mengetuk pintu namun Raiden rupanya tak mendengar. "Pak, semuanya sudah normal," lapornya. Raiden pun mengangkat wajahnya, tampak jelas kantung hitam menggelayut di bawah matanya. "Ya, terimakasih!" sahutnya. Zidan mengangguk dan kembali berpamitan, dia tak mau ada di satu ruangan dengan bosnya d

