Mara tertawa hingga sepasang mata wanita itu tidak hanya mengecil, tetapi juga berair. Berusaha untuk menghentikan tawa, Mara menyusut cairan yang sudah mengumpul di sudut mata. Mengatur masuk dan keluarnya napas, hingga beberapa saat kemudian tawa itu bisa menghilang. Kepala wanita itu mengangguk beberapa kali. “Iya, dia memang sudah segila itu.” “Aku bersyukur dia tidak harus menjadi Rahwana, karena dia akan mati di tangan Rama.” Andra membungkuk meraih gelas yang ada di atas meja. Mara menghembus napas panjang. “Aku tidak tahu harus berkata apa. Dia suami sahabatku sendiri. Menikah dengannya sebenarnya tidak pernah terpikirkan olehku. Saat aku pertama kali melepasnya, aku sungguh sudah ikhlas dia hidup bahagia bersama Nadia.” Sepasang bibir wanita itu menipis. “Tapi, rencana Tuhan me

