12. Pria Br*ngs*k

2089 Words
Ara duduk di sofa ruang tamu, di atas meja sebuah kotak putih tipis dengan gambar ponsel terbaru di sampulnya. Kotak itu sudah terbuka. Di sebelahnya, ponsel baru mengilap mengambang di atas permukaan kaca, layarnya masih gelap, masih polos, masih belum menjadi milik siapa pun. Matanya tidak lepas dari ponsel itu. Ia hanya tidak tahu harus merasa senang atau kesal. Mengingat ponsel itu tidak ada kontak orangtuanya, tidak ada kontak teman-temannya, dan beberapa koleksi foto pribadinya. Tidak ada apa-apa. Ponsel itu kosong, seperti hidupnya sekarang. Tatapannya beralih dari ponsel ke sosok pria yang duduk di seberang meja. Arman. Pria yang siang itu datang dengan sebuah paper bag berisi kotak ponsel, lalu duduk di kursi yang ditawarkan Yati tanpa banyak bicara. Ara mengenalinya, atau setidaknya pernah melihatnya. Pria ini ada di akad nikah kemarin, berdiri di belakang Dirga seperti bayangan. Lalu semalam, pria ini yang membawakan kopernya ke dalam mobil. Kaki tangan Dirga. Itulah kesimpulan Ara. "Ponselku, di mana?" tanya Ara. Suaranya datar, tapi ada tekanan di sana. Arman menatapnya dengan ekspresi netral. Tidak ramah, tidak juga dingin. Seperti wajah orang yang sudah terbiasa menerima perintah tanpa bertanya. "Saya kurang tahu, Mbak. Mungkin disimpan Pak Dirga. Saya hanya diminta bawakan ponsel baru saja." Ara melengos. Tangannya ia lipat di d**a, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengannya sendiri, tidak sabar, kesal, tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. "Di dalamnya sudah ada kartu baru dan nomor kontak Pak Dirga," Arman memberi tahu, seperti sedang melaporkan inventaris. Ara menoleh kembali. Matanya menyipit. "Sekalian masukin nomor kamu juga." "Untuk apa, Mbak?" Arman mengernyit. Bukan karena keberatan, tapi karena tidak mengerti. Ara menghela napas. Jari-jarinya yang tadi mengetuk lengan, kini berhenti. "Saya gak yakin dia bakal angkat panggilan kalau saya yang telepon. Lebih baik saya hubungi kamu aja biar cepat." Arman terdiam beberapa detik. Lalu sudut bibirnya naik sedikit, seolah ia mengerti. Tangannya meraih ponsel baru dari atas meja, jari-jarinya yang besar dan kasar mengetik beberapa angka di layar sentuh dengan cepat. Tidak lama. Lalu ia meletakkan ponsel itu kembali di hadapan Ara. "Sudah, Mbak." Arman berdiri dari duduknya. Ia merapikan jaketnya yang tidak perlu dirapikan, lalu menunduk hormat. "Kalau begitu saya pamit dulu." "Tunggu!" Ara setengah berdiri dari duduknya. Tangannya terulur ke depan, seperti bisa menahan Arman hanya dengan isyarat. Arman berhenti. Tubuhnya yang sudah setengah berbalik ke arah pintu, kini kembali menghadap Ara. "Ya, Mbak?" Ara menelan ludah. Ia duduk kembali. Ada pertanyaan yang menggelitik di kepalanya sejak semalam, sejak Dirga menyeretnya ke kamar, sejak pria itu mengatakannya bahwa pernikahan ini adalah hukuman. "Dirga itu siapa?" Arman mengernyit lagi. Bingung. "Maksud saya," Ara memperjelas, suaranya sedikit berbisik sekarang, seperti takut didengar oleh dinding sekalipun, "dia itu seperti apa orangnya?" Arman tidak segera menjawab. Ia menatap Ara, dan untuk pertama kalinya, Ara melihat ada sesuatu di mata pria itu, bukan simpati, tapi semacam pertimbangan. Seperti sedang menimbang-nimbang berapa banyak informasi yang boleh ia berikan. Lalu Arman tersenyum tipis. "Mbak kan sudah jadi istrinya sekarang. Cepat atau lambat pasti akan tahu seperti apa Pak Dirga." Ia berhenti sejenak. Matanya menyapu wajah Ara, mata yang sembab, pipi yang masih pucat, bibir yang mengerucut karena menahan kesal. "Tapi satu pesan saya." Suara Arman turun setengah oktaf. "Jangan membantah ucapannya." Ara menatap Arman dengan sinis. Jangan membantah. Bagus. Tadi malam ia sudah membantah. Lalu ia menamparnya. Lalu Dirga nyaris, Ara menghentikan pikirannya di sana. "Pak Dirga tidak suka dibantah," lanjut Arman, seolah tidak melihat perubahan ekspresi di wajah Ara, "apalagi melakukan kekerasan." Ara nyaris tertawa. Tawa getir yang tertahan di tenggorokan. Terlambat, Arman. Kekerasan sudah terjadi. Dari dua arah. "Berapa lama saya akan menjadi istrinya?" tanya Ara, berganti topik. Suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya. Arman terdiam. Lebih lama dari biasanya. Matanya tidak lagi menatap Ara, tapi ke lantai seolah itu lebih menarik perhatiannya. "Selama Pak Dirga mau." Jawaban itu jatuh seperti batu ke dalam air. Riaknya terasa hingga ke ujung jari Ara. "Maaf, Mbak, saya benar-benar harus pergi. Permisi." Arman berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu, tidak memberi kesempatan bagi Ara untuk bertanya lagi. Pintu terbuka. Pintu tertutup. Suara mesin mobil yang menyala dan kemudian menghilang di kejauhan. Ara masih duduk di kursinya. Ia mengambil ponsel baru itu, jarinya bergulir membuka aplikasi pesan yang masih sangat baru belum ada apa-apa. Dia juga tidak begitu ingat dengan nomor ibunya, atau ayahnya. Hanya nomornya sendiri yang dia ingat, dan nomor ... Zaki. "Sial! Gak mungkin kan aku hubungi si b******n itu," keluhnya kesal. Ia meletakkan lagi ponsel itu ke atas meja sedikit keras hingga menimbulkan suara nyaring. Ia ingin pergi saja, pulang ke rumah orangtuanya, tapi ingat pesan dari Yati, "kata Pak Dirga, Mbak Ara jangan keluar rumah." Di telinganya, kata-kata Arman masih bergema. "Selama Pak Dirga mau." Artinya, Ara tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Tidak sekarang. Tidak sampai Dirga memutuskan sebaliknya. Ara memejamkan matanya. Padahal dia korban di sini, bukan pelaku. Andai saja dia tau lebih awal siapa itu Zaki. *** Haris duduk di kursi favoritnya di ruang tamu, kursi kayu jati dengan sandaran tinggi yang biasa ia gunakan untuk membaca koran setiap pagi. Tapi sekarang koran itu terlipat rapi di meja samping, tidak tersentuh sejak dua jam lalu. Matanya tertuju pada ponsel di tangan kanannya, layarnya masih menampilkan pesan singkat terakhir yang ia kirimkan pada Ara pagi tadi. Hanya satu centang. Terkirim, tapi belum sampai. Udara di ruang tamu terasa panas meskipun kipas angin di langit-langit berputar kencang. Mungkin bukan udara yang panas. Mungkin perasaannya yang tidak tenang. "Masih gak bisa dihubungi, Ma?" tanya Haris, suaranya sedikit serak. Wina yang duduk di sofa panjang di seberangnya, menggelengkan kepala. Tangannya memegang ponselnya sendiri. Jari-jari Wina masih bergerak di atas layar, menekan tombol panggil sekali lagi, meskipun sudah puluhan kali ia lakukan sejak pagi dan tidak ada respon. "Nomornya gak aktif, Pa." Suara Wina pelan, hampir seperti bisikan. "Dari tadi pagi terakhir Mama hubungi Ara tapi gak diangkat-angkat." Wina meletakkan ponselnya di pangkuan, lalu menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ada raut khawatir di wajah tuanya. Haris menggeram kesal. Bukan geraman keras, tapi suara dari dalam d**a yang keluar lewat bibir yang mengatup rapat. Tangannya yang menggenggam ponsel kini mengepal. Ia tidak suka ini. Tidak suka sama sekali. Mereka tidak mengenal Dirgantara Bayuadji. Nama itu asing di telinga mereka sampai kemarin pagi, sampai pria itu muncul dari pintu tenda seperti badai yang tidak diundang. Pria itu datang, menghentikan akad, memaksa menjadi pengganti, lalu membawa putri mereka pergi ke rumah yang tidak pernah mereka lihat. Tanpa pamit yang layak. Tanpa penjelasan. Tanpa nomor telepon yang bisa dihubungi. Dan sekarang, Ara tidak bisa dihubungi. "Pa," suara Wina memecah keheningan, "bagaimana kalau kita hubungi Zaki, kita—" "Ma." Haris memotong dengan nada yang sudah naik satu tingkat. Bukan berteriak, tapi ada peringatan di sana. Matanya menatap istrinya dengan sorot yang tajam, karena kesal, karena frustasi, karena tidak tahu harus marah kepada siapa lagi. "Mama masih mau bicara dengan si b******k itu?" Suara Haris bergetar di ujung kalimat. "Setelah apa yang dia lakukan pada Ara, pada kita?" Wina terdiam. Tangannya yang semula terulur ke arah suami, kini jatuh lemas di pangkuan. Matanya menunduk, menatap lantai yang berpola seperti air. Tapi kemudian Wina mendongak lagi. Matanya sekarang tidak lagi berkaca-kaca. Ada sesuatu yang lain di sana, kegigihan seorang ibu yang tidak akan berhenti hanya karena suaminya marah. "Tapi, Pa." Suara Wina pelan, tapi tegas. "Sejak tadi kita gak bisa hubungi Ara. Kita gak tahu apa yang terjadi sama anak kita, Pa." Ia menatap Haris lurus-lurus. Tidak menantang, tapi juga tidak mau mengalah. "Dirga katanya adik iparnya Zaki. Kita hubungi dia, cari tahu keadaan Ara. Dia yang buat Ara jadi kayak gini." Kalimat terakhir itu keluar dengan suara yang sedikit pecah. Wina menahan napas, menahan tangis yang mengancam keluar dari sudut matanya. Haris menghela napas panjang. Udaranya keluar dari mulutnya dengan suara yang berat, seperti orang yang baru saja mengangkat beban terlalu lama dan akhirnya melepaskannya. Ia menatap ponsel di tangannya, lalu menatap Wina, lalu kembali ke ponsel. Dengan berat hati, ia mengangguk. "Baiklah, Ma. Papa akan hubungi Zaki." Wina menghela napas lega. Tapi lega itu tidak tahan lama, karena ia tahu suaminya tidak akan bicara dengan Zaki dengan nada yang ramah. Tidak setelah semua yang terjadi. Haris membuka aplikasi hijau. Jarinya bergulir ke bawah, melewati nama-nama kolega bisnis, kerabat, teman lama. Lalu berhenti di satu nama yang sudah ia kunci, tidak dihapus, tapi juga tidak ingin ia lihat. Zaki Ramanda. Foto profil pria itu masih sama, wajah tersenyum dengan latar belakang pegunungan. Senyum yang dulu membuat Haris merasa tenang, merasa bahwa putrinya akan berada di tangan yang tepat. Sekarang senyum itu terasa seperti topeng, seperti kebohongan yang dibungkus dengan rapi. Jari Haris menekan nama itu. Ia harus menunggu beberapa dering. Satu. Dua. Tiga. Empat. Di setiap dering, emosi di dadanya semakin menggelegak. Ia membayangkan wajah Zaki di ujung sana. Membayangkan pria itu mengangkat telepon dengan perasaan bersalah. Membayangkan suara yang mungkin gemetar, mungkin gugup, mungkin berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk meminta maaf. Tapi Haris tidak mau mendengar permintaan maaf. Tidak hari ini. "Halo, Om?" Suara Zaki terdengar ragu. Tidak yakin. Mungkin ia tidak menyangka jika Haris akan menghubunginya. Haris tidak membuang waktu. "Apa kamu mengenal Dirga?" Suaranya tidak sehangat dulu, tidak ada lagi panggilan Nak di awal kalimat, tidak ada lagi nada ramah yang biasa ia gunakan untuk berbicara dengan calon menantu. "Dia bilang dia adik iparmu, benar?!" Hening sejenak di ujung sana. Haris bisa mendengar Zaki menarik napas, panjang, berat, seperti orang yang sedang menenangkan diri. "Benar, Om." Suara Zaki pelan. "Dia ... adik ipar saya." Sekarang Haris mendengar sesuatu di suara itu. Rasa bersalah. Rasa malu. Rasa takut. Tapi Haris tidak peduli. "Beritahu saya nomor ponselnya!" Suaranya meninggi. "Kami tidak bisa menghubungi Ara sejak pagi. Segera!" "Baik, Om." Zaki menjawab cepat, seperti takut jika ia terlalu lama berpikir, Haris akan meledak lagi. "Saya kirim nomornya." Ada jeda. "Tapi, Om," lanjut Zaki, suaranya bergetar di ujung, "saya benar-benar minta ma—" "Cepat kirim nomornya!" Haris membentak. Suaranya menggema di ruang tamu yang tidak terlalu besar, membuat Wina tersentak di sofanya. Haris tidak peduli. Tidak peduli jika Zaki sedang berusaha meminta maaf. Tidak peduli jika pria itu menangis sekalipun. Tidak ada permintaan maaf yang bisa memperbaiki apa yang sudah terjadi. Dia menekan tombol merah tanpa menunggu jawaban. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Satu kontak. Dirgantara Bayuadji Tidak ada foto profil. Tidak ada status. Hanya nama dan nomor. Tanpa berpikir panjang, tanpa memberi tahu Wina, Haris segera menekan nomor itu. Ponselnya ditempelkan ke telinga, dan ia mendengar dering, satu, dua, lalu suara berat di ujung sana. "Halo?" Suara Dirga terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menikahi putri orang tanpa izin yang layak. Suaranya datar, seperti tidak ada beban, seperti hidupnya berjalan normal-normal saja, padahal di seberang sana, seorang ayah sedang berusaha menahan diri untuk tidak berteriak. "Halo, Dirga!" Haris membalas, suararnya sengaja ia besarkan, bukan berteriak, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak senang. "Saya di sini. Ada yang bisa saya bantu?" "Kenapa kami tidak bisa menghubungi Ara?" Haris tidak memberi kesempatan basa-basi. "Apa yang terjadi pada putri kami? Kamu tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya, kan?" Keheningan di ujung sana. Hanya satu detik, tapi terasa seperti satu menit bagi Haris. "Pak." Suara Dirga masih tenang. Masih datar. Masih membuat Haris ingin melempar ponsel ke dinding. "Saya suaminya sekarang. Anda tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja." "Tapi kenapa kami tidak bisa menghubunginya?!" Haris hampir berteriak sekarang. Wina sudah berdiri dari sofanya, berjalan mendekati suami, tangannya meraih lengan Haris, bukan untuk menahan, tapi untuk mencari pegangan. "Ponselnya mati, Pak." Dirga menjawab dengan nada yang sama. "Jatuh dan pecah. Saya sudah membelikan ponsel baru. Saya akan beri tahu Anda begitu tiba di rumah." Haris membuka mulut. Ingin bertanya lagi. Ingin berteriak lagi. Ingin mengatakan bahwa penjelasan itu tidak masuk akal, bahwa ia tidak percaya, bahwa ia ingin bicara dengan putrinya sekarang, detik ini, tidak bisa menunggu. Tapi Dirga lebih cepat. "Dirga—sialan!" Panggilan itu putus. Dirga menutup telepon secara sepihak. Tanpa permisi. Tanpa rasa hormat. Haris menatap ponselnya dengan mata melotot. Layar menampilkan Call Ended dengan durasi panggilan satu menit dua belas detik. Tidak cukup. Tidak pernah cukup. "Pa ..." Wina menggenggam lengan suaminya lebih erat. Matanya basah. "Pa, bagaimana?" Haris tidak menjawab. Tangannya gemetar, karena marah yang tidak bisa ia salurkan. Ia meletakkan ponsel di meja dengan gerakan yang sedikit membanting, lalu bersandar di kursinya, menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Istri saya," ulangnya, menirukan suara Dirga dengan nada penuh kepahitan. "Saya suaminya sekarang." Ia menurunkan tangannya. Menatap Wina dengan mata yang lelah, lelah secara fisik dan mental. "Pria itu, Ma," ucap Haris pelan, "sama brengseknya dengan Zaki."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD