11. Pernikahan yang Aneh

1876 Words
Suara mesin mobil menyala memecah kesunyian pagi menjelang siang itu. Ara yang sedang duduk di atas ranjang, langsung turun dan berlari ke arah jendela. Matanya menyipit, melihat ke bawah. Dari carport, mobil hitam itu meluncur mundur dengan mulus. Ara bisa melihat siluet Dirga di balik kaca depan, wajah pria itu tidak menoleh, tidak melihat ke arah rumah, tidak memberi isyarat apa pun. Matanya membulat. "Ponsel!" Ara bergegas keluar dari kamar. Kakinya yang masih telanjang menapaki lantai marmer dingin di koridor, lalu menuruni tangga dengan dua anak tangga sekaligus. Di ruang tamu, ia hampir terpeleset karena lantai yang licin, tapi ia segera menyeimbangkan tubuhnya dan berlari menuju pintu depan. Ia mendorong pintu kaca geser itu dengan kasar. Udara yang panas langsung menyambutnya, tidak seperti dingin di dalam rumah yang dikondisikan oleh AC. Di depan pagar, mobil hitam itu sudah melesat cepat. "Dirga!" teriak Ara, padahal tahu betul suaranya tidak akan terdengar. Ia berlari melewati halaman. Kaki telanjangnya menapak rumput sintetis yang hangat terkena matahari, lalu beralih ke aspal jalanan yang lebih panas. Panas itu terasa seperti setrika yang ditekankan ke telapak kakinya, tapi Ara tidak peduli. Ia terus berlari hanya untuk melihat mobil hitam itu sudah tidak tampak sama sekali. Ara berhenti. Dadanya naik turun. Bukan karena lelah, tapi karena kesal yang menggelegak. Pelan-pelan, ia menunduk, melihat kedua telapak kakinya yang mulai kemerahan karena aspal panas. Sesekali ia menggoyangkan jari-jari kakinya, bergantian mengangkat satu kaki lalu kaki lainnya, panas. Kepalanya mendongak ke langit. Matahari bersinar terik tepat di atas kepalanya, sudah hampir pukul sebelas, pikir Ara. Sinar matahari itu menyilaukan, membuatnya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menunduk lagi. Langkahnya kembali ke rumah terasa lebih lambat dari saat ia berlari keluar. Kaki telanjangnya yang sudah terbiasa dengan panas aspal, kini mulai merasakan dingin lagi begitu memasuki rumah. Yati berdiri di dapur, setengah tubuhnya terlihat dari balik meja bar granit hitam. Wajahnya tersenyum ramah yang sejak tadi pagi ia tunjukkan pada Ara, meskipun Ara bisa melihat ada sedikit kegugupan di balik senyum itu. "Mbak Ara, Pak Dirga pergi sebentar, katanya ada perlu di luar," kata Yati, memberi tahu dengan nada yang sedikit terlalu ceria untuk situasi seperti ini. Ara menghampiri Yati. Langkahnya pelan, hampir lesu. Ia sampai di depan meja bar dan menatap wanita paruh baya yang masih tersenyum padanya. "Dia gak ninggalin ponsel, Bu?" Kepala Yati menggeleng pelan. Mata Yati berkedip, seperti ikut merasa tidak enak. "Katanya nanti ada yang datang ke sini, nganterin ponsel punya Mbak Ara." Ara mengangguk. Nanti. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Bentar, Bu." Ara berbalik dan berlari menuju tangga. Kakinya yang telanjang bersuara tap tap tap di setiap anak tangga. Ia naik ke lantai dua, melewati koridor pendek, dan berhenti di depan pintu kayu gelap tepat di depan kamarnya. Kamar terlarang. Ara meraih kenop pintu. Diputarnya. Kencang. "Sial! Dikunci," bisiknya, lalu lebih keras, "Sial!" Ia menendang pintu itu sekali, tidak keras, hanya cukup untuk melampiaskan sedikit frustrasi. Kayunya bergeming. Pintu itu tetap tertutup. Kokoh. Seperti Dirga. Seperti semua yang dilakukan pria itu. Ara menempelkan keningnya ke permukaan kayu yang dingin. Matanya terpejam. Ia bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Setelah beberapa saat ia berbalik, meninggalkan pintu itu, dan menuruni tangga dengan langkah gontai, kaki yang diseret, bahu yang merosot, kepala yang menunduk. Saat ia sampai di ruang makan, Yati sudah menata meja dengan beberapa menu masakan yang dia buat. "Mbak Ara, ini makan dulu." Yati tersenyum lagi. Senyum yang sama. Tapi kali ini, Ara merasakan sesuatu yang berbeda, entah karena tulus atau hanya basa-basi. Tapi setidaknya ada yang berusaha baik padanya di rumah ini. "Terima kasih, Bu." Ara menarik kursi dan duduk di hadapan meja makan yang cukup besar untuk enam orang. Ia mengambil sendok, lalu mengambil nasi seporsi, lalu lauk, lalu sayur. Tidak berurutan. Tidak rapi. Ia hanya ingin mengisi perut yang mulai keroncongan sejak tadi pagi, sebelum semuanya terasa lebih berat. Yati memandangi Ara. Wanita itu berdiri di seberang meja, tangannya memegang lap basah yang sudah tidak ia gunakan sejak lima menit lalu. Matanya menatap Ara, bukan tatapan aneh, tapi tatapan pengamatan. Tatapan seseorang yang sedang mencoba memahami. Ara merasakan tatapan itu. Ia mendongak. "Ada yang aneh, ya, Bu?" tanya Ara, sedikit canggung. Mulutnya masih penuh, tapi ia berusaha bicara sejelas mungkin. Yati tersentak. Matanya berkedip cepat. Ia tersenyum lagi, kaku. "Ah, enggak, Mbak Ara. Saya cuma ...." Ia tidak melanjutkan. Tangannya mulai mengusap-usap lap basah yang sudah kering itu, gerakan yang tidak berarti. "Pasti heran kan liat aku sama Dirga," potong Ara, menyelamatkan Yati dari kalimat yang tidak tahu harus ke mana. Yati tersenyum kaku. Tapi kali ini, senyumnya tidak dipaksakan. Hanya ... malu. Seperti orang yang ketahuan sedang mengintip. Kepalanya mengangguk pelan. "Mbak Ara makan saja ya, saya mau beresin yang di belakang itu," kata Yati cepat, lalu berbalik, hendak meninggalkan dapur. Ara hanya mengangguk, kembali menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Yati sudah hampir sampai di pintu belakang ketika ia berhenti. Ia menoleh. Ada keraguan di wajahnya. "Ya, Bu?" Ara sudah waspada lebih dulu. "Eh, itu, Mbak ... kata Pak Dirga tadi, Mbak Ara gak boleh keluar rumah." Kalimat itu jatuh pelan, tapi terasa berat di telinga Ara. Tangannya berhenti mengunyah sesaat. Sendok menggantung di udara. Ia menatap Yati. Wanita itu terlihat tidak nyaman, mungkin karena merasa sudah melebihi batasnya sebagai pembantu. Tapi Ara tidak marah. Tidak kepada Yati. Yati hanya menyampaikan pesan tuan majikannya. "Iya, Bu, saya paham." Ara tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin, kaku, dingin, tidak sampai ke mata. Tapi cukup untuk membuat Yati lega. Yati kembali tersenyum kaku, lalu benar-benar meninggalkan Ara sendiri di meja makan. Ara memandangi piringnya. Nasi masih setengahnya. Ia mengambil sendok lagi, mengunyah lagi, meskipun seleranya mulai hilang sejak kalimat itu diucapkan. "Mbak Ara gak boleh keluar rumah". Ia tidak kaget. Dari semalam, dari cara Dirga mengunci pintu kamarnya, dari cara pria itu mengambil ponselnya, dari cara ia berkata ini penjara, Ara sudah tahu. Rumah ini bukan rumah. Ini kurungan. Dan ia adalah burung yang sayapnya sudah dipotong sebelum sempat terbang. *** Dirgantara Bayuadji menepikan mobilnya di depan rumah bergaya kolonial modern dengan halaman luas yang dipenuhi bunga-bunga musiman. Rumah masa kecilnya. Rumah di mana ia belajar berjalan, berbicara, dan dari sang ayah belajar bahwa kesetiaan dalam pernikahan adalah sesuatu yang rapuh. Ia mematikan mesin dan melangkah keluar dari mobil. Langkahnya mantap menuju pintu utama yang sudah terbuka, seperti biasa, pembantu mereka selalu waspada terhadap kedatangan siapa pun. Saat ia masuk, suara tawa kecil keponakannya langsung menyambut dari ruang keluarga. Shofie. Kemudian suara Salsa yang tertawa pelan, lalu suara ibunya yang ikut-ikutan. Tapi ada satu suara yang tidak ikut tertawa, Zaki. Dirga melangkah masuk ke ruang keluarga yang luas, dengan sofa berwarna krem panjang menghadap ke taman belakang melalui jendela kaca besar. Salsa duduk di dekat ibu mereka, Gistara, sementara Mahesa, ayah mereka duduk di kursi tunggal dengan tablet di pangkuannya yang sudah tidak dilihat sejak beberapa menit lalu. Zaki duduk di sisi lain Salsa, tubuhnya terlihat kaku di sofa yang empuk. Dan ketika Dirga masuk, Zaki mengalihkan pandangannya. Tidak ke arah Dirga. Tapi ke arah lain, ke jendela, ke taman, ke mana pun yang tidak mengharuskannya menatap adik iparnya yang baru saja menikahi wanita yang hampir menjadi istri keduanya. "Dirga, akhirnya kamu pulang juga." Gistara mengulurkan kedua tangannya ke arah putra bungsunya. Wajahnya yang berkerut karena usia, tapi masih terlihat cantik dengan senyum yang hangat. Dirga mendekat, membungkuk sedikit, dan membiarkan ibunya menariknya duduk di samping. "Mama sehat?" tanya Dirga, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya. Hanya sedikit. "Seperti yang kamu lihat." Gistara tersenyum, tangannya menepuk-nepuk paha putranya. "Masih kuat, masih bisa mengomeli kamu dan kakakmu." Dirga tersenyum tipis. Senyum yang tidak akan ia berikan pada siapa pun di luar ruangan ini. Matanya sempat beralih ke arah Mahesa. Ayahnya. Pria yang dulu membuat ibunya menangis berhari-hari, berminggu-minggu, saat skandal perselingkuhannya terbongkar. Mahesa kini terlihat tua, rambutnya hampir sepenuhnya putih, tapi posturnya masih sedikit tegap. Pria itu menatap Dirga sekilas, lalu kembali ke tabletnya. Dirga mengalihkan pandangan. Ia duduk di samping ibunya, tepat di seberang Zaki. Jarak mereka hanya beberapa meter, dipisahkan oleh meja kopi kaca yang bersih tanpa debu. Obrolan mengalir seperti biasa. Mahesa lebih banyak berbicara dengan Zaki, tentang bisnis, tentang proyek baru, tentang pasar yang sedang lesu. Zaki menjawab dengan suara yang terukur, tidak terlalu antusias, tidak terlalu dingin. Cukup untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Sesekali Dirga ikut menimpali. Memberi pendapat. Menyanggah. Tertawa kecil ketika Shofie melakukan sesuatu yang lucu. Seperti tidak ada yang salah. Seperti enam bulan terakhir tidak terjadi apa-apa. Seperti Dirga tidak baru saja menikahi wanita yang hendak dinikahi pria di depannya. Setelah makan siang bersama, ibu dan ayahnya memilih untuk beristirahat di kamar. Sementara Salsa ke dapur mencari cemilan lain. Dirga melihat Zaki berada di taman belakang bersama Shofie. Di sana, Zaki sedang mendudukkan Shofie di ayunan kayu putih. Gadis kecil itu tertawa ketika ayahnya mendorongnya perlahan, rambut ikalnya yang tipis terbang ke belakang tertiup angsi. "Om Dirga!" Shofie melambaikan tangan mungilnya begitu melihat Dirga mendekat. Matanya berbinar. "Halo, Sayang." Dirga membelai rambut keponakannya yang sedikit keriting, rambut yang mirip dengan rambut Salsa dulu, ketika mereka masih kecil dan bermain di halaman yang sama. Shofie berlari kecil ke arah pintu belakang begitu melihat ibunya muncul. "Ma, Shofie haus," katanya merengek manja. Salsa tersenyum, menggandeng tangan putrinya, dan membawanya masuk ke dalam. Sekarang, hanya Dirga dan Zaki yang tersisa di taman. Suara angin mendesir di antara dedaunan. Burung gereja bertengger di pagar, lalu terbang ketika bayangan awan lewat. Zaki masih berdiri di dekat ayunan, tangannya di saku celana, wajahnya menunduk ke arah rumput yang dipotong rapi. Ia tidak bergerak. Tidak juga bersuara. Dirga berjalan mendekat. Jarak mereka kini hanya satu lengan. "Kupikir kamu akan bawa dia ke sini," ucap Zaki akhirnya. Suaranya pelan, seperti orang yang tidak yakin. Dirga tidak menoleh. Matanya lurus ke depan, ke arah pagar tembok tinggi yang memisahkan rumah ini dari dunia luar. "Apa kamu siap melihat dia bersamaku?" Tantangan itu keluar dari bibir Dirga dengan nada yang datar, tapi ada ujung tajam di sana. Zaki membeku. Dirga bisa merasakannya tanpa melihat. Bisa merasakan ketegangan yang merambat dari bahu hingga ke jari-jari tangan pria itu. Bisa merasakan napas Zaki yang berubah, lebih pendek dan dangkal. "Sial, Dirga!" Suara Zaki keluar setengah berbisik, setengah menggeram, cukup keras untuk didengar oleh Dirga, tapi tidak cukup untuk menarik perhatian orang di dalam rumah. "Jangan sakiti dia, dia tidak bersalah!" Dirga perlahan menoleh. Matanya menatap Zaki dingin dan penuh kekecewaan. "Jangan mengaturku, Zaki." Suaranya pelan. Jauh lebih pelan dari teriakan Zaki. Tapi justru karena pelan itulah setiap kata terasa menusuk. "Perbaiki saja kelakuanmu. Jika tidak, dia yang akan menanggungnya." Itu ancaman. Ancaman yang nyata. Dirga berbalik. Ia berjalan meninggalkan Zaki, melintasi rumput hijau menuju pintu belakang. Setiap langkahnya tenang, tidak tergesa, seolah ia tidak baru saja menusuk seseorang tanpa mengeluarkan pisau. Di belakangnya, Zaki masih berdiri di dekat ayunan. Tangannya mengepal di saku celana. Bukan kepalan biasa, tapi kepalan yang membuat kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangan, kepalan yang membuat seluruh lengannya gemetar, kepalan yang keluar dari amarah yang tidak punya tempat untuk pergi. Ia menatap punggung Dirga yang menjauh, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya. Karena di punggung itu, ia melihat bayangan Ara. Bayangan wanita yang kini terkurung dalam pernikahan yang tidak ia minta, dengan pria yang membencinya tanpa alasan yang benar. Bayangan yang tidak bisa ia tolak meskipun ia menutup mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD