Pintu apartemen terbuka dengan suara keras yang membuat Zaki tersentak dari kursinya. Ia langsung berdiri, wajahnya pucat seperti kertas yang sudah dua hari tergeletak di bawah sinar matahari. Kemeja putihnya kini kusut di bagian kerah dan siku, basah oleh keringat yang tak berhenti mengucur sejak tiga jam lalu, seolah dinginnya AC sama sekali tidak bisa menampung kekhawatirannya.
"Dirga! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Zaki, suaranya pecah di ujung kalimat. Tangannya terkepal di sisi tubuh, tapi seluruh tubuhnya gemetar, bukan karena marah, tapi karena ketakutan yang sudah ia pendam sejak diculik dari lobi hotel pagi buta. "Biarkan aku pergi!"
Dirga melangkah masuk dengan tenang. Jas gelapnya masih terpasang rapi, tidak ada setitik debu pun yang menempel. Ia menutup pintu di belakangnya dengan gerakan lambat, sengaja, seolah ia punya banyak waktu dan Zaki tidak punya sama sekali.
"Pergi untuk akad, Zaki?" tanya Dirga. Suaranya datar, tapi ada ujung tajam yang siap menggorok kapan saja.
Zaki menelan ludah. Jakunnya naik turun terlihat jelas. Keringat membasahi pelipisnya, menetes ke pipi, tapi ia tidak berani menyeka. Matanya tidak lepas dari Dirga, pria yang selama enam tahun ia panggil adik ipar, tapi sekarang terasa seperti algojo yang baru pertama kali ia kenal.
"Dirga … aku tahu aku salah. Tapi tolong, sebentar lagi akadnya dimulai. Aku harus—"
"Sayangnya sudah terlambat."
Dirga mengangkat tangan kanannya perlahan. Gerakannya lambat, dramatis, seperti seorang aktor yang sedang memamerkan properti terpenting di atas panggung. Cahaya lampu apartemen jatuh tepat di jari manisnya, di mana sebuah cincin kawin sederhana melingkar di sana. Cincin itu masih mengilap. Baru. Baru saja dipakaikan beberapa jam lalu.
Zaki membeku.
Matanya terpaku pada cincin itu. Wajahnya yang tadinya pucat berubah menjadi abu-abu, seperti warna langit sebelum badai terburuk datang. Bibirnya bergerak, mencoba membentuk kata, tapi suaranya mati di tenggorokan.
"Aku baru saja menikahi calon mempelaimu, Zaki."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi terasa seperti palu godam yang menghantam d**a Zaki berulang kali.
"Dirga … kamu tidak—"
Kepala Dirga mengangguk cepat. Satu kali. Tegas. "Ya, aku melakukannya, Zaki."
Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat di lantai marmer, bergema di ruangan yang sunyi. Zaki mundur selangkah, tapi kursi di belakangnya menghalangi. Ia terjebak. Dirga berhenti tepat di hadapannya, hanya berjarak satu lengan.
"Aku jadikan dia istriku," lanjut Dirga, suaranya turun menjadi bisikan yang justru lebih menakutkan dari teriakan, "tapi bukan berarti aku akan memperlakukan dia seperti istri yang sesungguhnya."
Zaki menggeleng. Pelan. Lalu cepat. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Dia akan mendapatkan hukuman," kata Dirga, dan setiap suku katanya terukir di udara seperti batu yang diukir dengan pahat. "Karena telah menjadi wanita yang merebut kebahagiaan Salsa."
"Dirga, dia tidak bersalah!" Zaki akhirnya menemukan suaranya. Tapi suara itu pecah, bergetar, seperti kaca retak yang siap hancur. "Ini salahku! Semua ini salahku! Jangan libatkan dia, Dirga!"
Dirga tidak bergerak. Wajahnya tetap dingin, seperti topeng yang tak bisa ditembus oleh apa pun.
"Kamu memang tidak pandai bersyukur, Zaki."
Nada suaranya berubah. Ada sesuatu di sana, bukan emosi, tapi seperti orang yang sudah lelah dan tidak punya energi lagi untuk marah. Hanya kekecewaan yang mengendap begitu lama, dan kini keluar sebagai racun.
"Andai saja Salsa tidak mengandung anakmu, bisa saja aku meminta dia berpisah darimu. Tapi aku tahu kondisinya sangat tidak memungkinkan. Aku tidak mau masalah ini membuatnya drop."
Dirga tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum itu hanya menggerakkan satu sisi bibirnya, dan di matanya, tidak ada sedikit pun kehangatan.
"Sekarang, aku beri kesempatan padamu, Zaki." Suaranya kembali tenang. Terkendali. Seperti sedang memberi instruksi kerja. "Kembali pulang. Temui Salsa. Dan memohon ampunan padanya."
Zaki membuka mulut, tapi Dirga belum selesai.
"Jika kamu tidak ingin melakukan itu, ingat." Ia mengangkat tangan yang sama, memamerkan cincin itu lagi. "Kehidupan Ara, ada di tanganku. Juga reputasimu akan hancur di tanganku dalam sekejap."
Zaki menarik napas tersedu. Dadanya naik turun dengan cepat. Dia tau, Dirga bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.
"Dan satu lagi, Zaki." Dirga memiringkan kepalanya sedikit. Matanya menyipit. "Aku punya kartu ayahmu. Jika kamu macam-macam, orang-orang terdekatmu akan merasakan getahnya juga."
Kalimat itu mendarat persis di titik terlemah Zaki.
Zaki menatap Dirga dengan napas yang semakin memburu. Matanya merah, bukan karena marah, tapi karena air mata yang ditahan sekuat tenaga. Tangannya gemetar di sisi tubuh.
"Jangan sakiti siapa pun, Dirga!" Suaranya menggeram, tapi itu geraman orang yang sudah kalah, yang hanya bisa mengeluarkan suara karena tidak ada senjata lain yang tersisa.
"Kenapa tidak?" Dirga balik bertanya, tanpa berkedip. "Kamu saja seenaknya menyakiti Salsa."
"Aku tahu aku salah."
"Ya, kamu memang salah. Dan kamu adalah b******n t***l!"
Untuk pertama kalinya, suara Dirga meninggi. Bukan berteriak, tapi ada getaran di sana yang membuat Zaki tersentak. Dirga menatapnya dengan mata yang sekarang menyala, api dingin yang lebih berbahaya dari api panas.
"Kamu berani menyakiti Salsa itu tandanya kamu siap hancur di tanganku, Zaki. Dan kamu akan menyeret orang-orang yang tidak bersalah akibat ulahmu sendiri."
"Jangan libatkan orang lain, Dirga." Zaki merangkai kata-katanya dengan susah payah, seperti orang yang sedang berjalan di atas es tipis. "Biar aku yang menanggungnya. Jangan libatkan orang lain."
Dirga menggeleng pelan. Gerakannya lambat, penuh arti.
"Kamu berani berbuat, kamu juga harus menanggung akibatnya."
Zaki terdiam. Dadanya masih naik turun, tapi kini lebih lambat. Keringat di pelipisnya mulai mengering, digantikan oleh dingin yang merayap dari dalam.
"Aku akan pulang," ucapnya akhirnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Dan memohon ampun pada Salsa. Tapi aku mohon, jangan libatkan siapa pun, Dirga."
"Selama kamu patuh, semua akan baik-baik saja."
Zaki menunduk. Tangannya menggenggam ujung kemejanya, mengerutkan kain itu tanpa sadar.
"Tapi Ara?" bisiknya. "Bagaimana dengan Ara?"
Dirga menatap kakak iparnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri. Matanya mengejek, bukan ejekan yang tertawa, tapi ejekan yang dingin dan penuh kepastian. Seolah Zaki baru saja mengajukan pertanyaan paling bodoh di dunia.
"Ara akan menjadi jaminan."
Zaki mendongak.
"Jika kamu menyakiti Salsa, maka aku juga akan menyakitinya." Dirga mengucapkannya seperti sedang membacakan daftar belanja. Datar. Tanpa emosi. "Sebaliknya, jika kamu bersikap seperti suami yang setia, maka Ara-mu akan baik-baik saja."
Rahang Zaki mengetat. Otot-otot di rahangnya menonjol, bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang menggeliat di bawah kulit. Ia mengepalkan tangannya lebih keras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dan satu lagi, aku tidak akan menceraikan dia," ucap Dirga dengan suara tegas. "Sehingga kalian tidak akan pernah bisa bersama."
Zaki menelan ludahnya susah payah. Rasanya sangat sakit seperti ada duri yang menancap di tenggorokannya.
Keheningan mengisi ruangan itu. AC masih berdengung. Jam dinding masih berdetak. Tapi di antara dua pria yang saling bertatapan, ada sesuatu yang lebih berat dari udara, sesuatu yang tidak bisa disentuh, tapi bisa dirasakan.
Dirga tersenyum. Lagi. Senyum tipis yang sama. "Cobalah untuk menjadi pria yang setia, Zaki. Di dunia ini sudah terlalu banyak pria b******k, jangan jadi salah satunya."
Ia berbalik, berjalan menuju pintu. Tangannya sudah meraih gagang, ketika Zaki bersuara lagi dari belakang.
"Dirga."
Dirga berhenti. Tidak menoleh.
"Kamu tidak akan pernah bisa membuatku berhenti mencintainya."
Dirga membuka pintu. Udara dari lorong masuk, membawa bau pengharum ruangan yang samar.
"Aku tidak perlu membuatmu berhenti mencintainya," ucapnya, masih membelakangi Zaki. "Aku hanya perlu membuatmu tidak bisa menjangkaunya. Selamanya."
Pintu tertutup.
Suara dari kunci berputar terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
Zaki jatuh terduduk di kursinya. Kedua tangannya menutup wajah, dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia menangis. Bukan isak. Bukan tangis pelan. Tapi tangis pria yang sadar bahwa hidupnya baru saja hancur, dan ia tidak bisa menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri.
Di luar apartemen, Dirga melangkah menuju lift. Jasnya masih rapi. Wajahnya masih tenang.
Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergerak.
Bukan penyesalan.
Bukan kemenangan.
Hanya kehampaan yang dingin, dan di dalam kehampaan itu, ada sesuatu yang menjadi tekadnya sejak awal. Dia akan menghancurkan siapa saja yang menghalangi rencananya.
***
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah. Rico sama sekali tidak mematikan mesin, dan untuk beberapa detik, hanya suara angin yang terdengar.
Zaki tidak segera turun.
Ia duduk di kursi belakang dengan tubuh yang terasa seperti bukan miliknya. Setiap tulang, setiap otot, terasa lemas, seperti ada yang mencabut seluruh tenaganya dan menyisakan hanya cangkang kosong. Kemeja putihnya kini tidak hanya kusut, tapi juga basah oleh keringat dingin yang tak berhenti mengucur sejak tiga jam terkurung di apartemen Dirga.
Rico menatapnya melalui kaca spion. Tidak ada simpati di mata itu. Hanya tugas yang sudah selesai.
"Kita sudah sampai, Pak."
Zaki tidak menjawab. Tangannya meraih gagang pintu, tapi jari-jarinya gemetar terlalu keras. Ia harus menarik napas tiga kali, sebelum akhirnya berhasil membuka pintu.
Kakinya menyentuh aspal. Lembek. Seperti berjalan di atas kasur.
Zaki melangkah melewati taman luas di depan rumahnya. Rumput yang dipotong rapi, bunga-bunga yang mulai mekar, ayunan kayu kecil di pojok halaman yang biasa dipakai Shofie, semuanya terlihat sama seperti biasa. Tapi rasanya berbeda. Seperti melihat foto rumah setelah kebakaran. Bentuknya masih sama, tapi ada sesuatu yang hangus di udara.
Ia berhenti di depan pintu utama.
Tangannya terangkat. Hampir menyentuh gagang. Lalu berhenti di udara.
Di balik pintu ini, ada Salsa. Istrinya. Wanita yang enam tahun lalu ia janjikan untuk setia. Wanita yang kini sedang mengandung anak keduanya, dengan perut yang sudah membuncit memasuki bulan ketujuh. Wanita yang setiap malam menunggunya pulang dengan senyum, meskipun ia tahu bahwa belakangan ini ia sering pulang larut.
Zaki memejamkan mata.
Semua akan berubah setelah ini.
Ia tahu. Ia tahu betul. Sikap Salsa tidak akan pernah lagi sehangat dulu. Senyumnya akan berbeda. Tatapannya akan penuh luka. Dan itu semua karena ulahnya sendiri.
Pintu terbuka.
Zaki melangkah masuk, dan suara pertama yang menyambutnya adalah suara Shofie. Putrinya yang berusia empat tahun itu sedang duduk di lantai ruang nonton TV, kaki mungilnya menjulur ke depan, sementara mulutnya bernyanyi dengan riang, lagu dari film kartun favoritnya.
Lalu tatapan matanya tertuju pada sosok yang duduk tenang di sofa panjang.
Salsabila.
Rambutnya diikat longgar. Daster ungu pupus membalut tubuhnya, dengan perut yang membuncit jelas di bagian depan, tempat anak keduanya tumbuh, tanpa tahu bahwa ayahnya hampir saja meninggalkan mereka semua untuk memulai hidup baru dengan wanita lain.
Zaki tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat istrinya secantik ini. Mungkin karena sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihatnya dengan kesadaran penuh bahwa ia hampir kehilangan semuanya.
Tanpa pikir panjang, tanpa rencana, tanpa persiapan, Zaki melangkah. Kakinya bergerak cepat, lalu melambat, lalu hampir tersandung karpet. Dan ketika ia cukup dekat, tubuhnya merosot. Kedua lututnya menghantam lantai marmer dengan suara yang terdengar keras di telinganya sendiri, tapi ia tidak merasakan sakit. Tangannya meraih tangan Salsa, kedua tangan itu, menggenggamnya erat, seolah Salsa adalah satu-satunya benda yang bisa menyelamatkannya dari tenggelam.
"Maafkan aku, Sayang."
Suaranya pecah di awal kalimat. Terisak. Bukan isak pria yang sedang berakting, tapi isak pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah menghancurkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki sepenuhnya.
"Maafkan aku."
Air matanya jatuh. Menetes ke punggung tangan Salsa. Zaki bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.
Shofie berhenti bernyanyi. Gadis kecil itu menatap ayahnya dengan mata membulat, tidak mengerti mengapa ayahnya duduk di lantai dan menangis.
Salsa tidak bergerak.
Tubuhnya tetap kaku di sofa. Tangannya yang digenggam Zaki tidak membalas genggaman itu, tapi juga tidak menariknya. Hanya diam. Pasif. Seperti patung yang diberi napas.
Dan ketika akhirnya Salsa membuka mulut, suaranya terdengar seperti sesuatu yang berbeda dari wanita yang Zaki kenal.
"Ya. Aku memaafkanmu."
Kata-kata itu akhirnya keluar.
Tapi nada suaranya ... dingin.
Bukan dingin karena marah. Ini adalah dinginnya seseorang yang sudah terlalu lama dibiarkan dalam kedinginan, sampai ia lupa bagaimana rasanya hangat. Dinginnya seseorang yang tidak lagi punya energi untuk berteriak, untuk menangis, untuk bertanya kenapa.
Salsa melepaskan satu tangannya dari genggaman Zaki, perlahan. Lalu ia meletakkan telapak tangannya di atas perutnya yang membuncit. Melingkar. Melindungi.
Dikhianati.
Ia dikhianati oleh pria yang paling ia cintai.
Bukan oleh orang asing. Bukan oleh musuh. Tapi oleh pria yang tidur di sampingnya setiap malam, yang membelai rambutnya saat ia hamil, yang mengatakan "Aku sayang kamu" setiap pagi sebelum berangkat kerja.
Zaki masih berlutut di lantai. Wajahnya basah. Tangannya masih menggenggam tangan Salsa yang satu lagi, seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya.
Tapi ia tahu.
Tangan yang ia genggam itu terasa dingin. Dan tidak ada tanda-tanda akan menghangat.
Di luar, matahari mulai terbenam. Sinar jingganya masuk melalui jendela kaca ruang tamu, jatuh tepat di lantai marmer antara Zaki dan Salsa, seperti garis yang tidak bisa dilintasi. Seperti batas yang tiba-tiba terbentuk di antara dua orang yang dulu tidur dalam satu selimut.
Shofie bangkit dari lantai. Gadis kecil itu berjalan mendekati ayahnya, lalu mengulurkan tangan mungilnya.
"Ayah, kenapa Ayah nangis?"
Zaki tidak bisa menjawab.
Salsa juga tidak.
Hanya angin yang menjawab, dengan suaranya yang pelan dan dingin, sama dinginnya dengan hati seorang wanita yang baru saja hancur, tapi terlalu lelah untuk memperlihatkannya.