4. Menyekap Sang Mempelai

1753 Words
Tiga hari sebelumnya ... Dirgantara Bayuadji berdiri di hadapan meja kerja kayu jati di lantai dua rumah kakaknya, tangan kanannya masih memegang undangan berwarna krem itu. Ujung jarinya mengusap huruf timbul yang tertata rapi di kertas tebal. Menikah Zaki Ramanda & Alranita Salim. Matanya tak berkedip saat membaca nama itu berulang kali. Rahangnya mengeras, gigi gerahamnya bergesekan pelan. Ia menemukan undangan ini secara tidak sengaja. Laci ruang kerja Zaki terbuka sedikit, hanya satu senti, cukup bagi matanya yang tajam untuk menangkap ada sesuatu di dalam sana. Saat itu ia hanya ingin mengambil dokumen yang ditinggal Salsa. Tapi ketika tangannya menarik laci, undangan itu jatuh ke lantai. Dirga tidak akan pernah melupakan detik itu. Waktu seolah berhenti. Udara di sekelilingnya mendadak pengap. Ia langsung sadar. Zaki tidak sedang sibuk dengan proyek baru. Zaki tidak sedang lembur setiap malam karena tekanan pekerjaan. Semua alasan itu, selama berbulan-bulan, adalah kebohongan. Dirga tidak kekurangan koneksi. Dalam dua puluh empat jam setelah menemukan undangan itu, ia sudah menghubungi tiga orang. Yang pertama, rekan bisnis lamanya yang memiliki akses ke data pribadi. Yang kedua, mantan kolega yang bekerja di bidang keamanan siber. Dan yang ketiga, seorang detektif swasta bernama Rico, yang rekomendasinya datang dari seseorang yang tak pernah ia ragukan integritasnya. Pertemuan dengan Rico terjadi di kafe pinggir Jakarta, di meja pojok yang diterangi lampu tembaga redup. Rico datang dengan jaket kulit dan ekspresi tanpa basa-basi. Ia meletakkan map cokelat tipis di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Dirga tanpa sepatah kata pun. Dirga membukanya. Di dalam map itu ada foto-foto. Bukan foto mesra yang membuat darahnya mendidih, tapi foto-foto biasa yang justru lebih menyakitkan. Zaki dan seorang gadis muda keluar dari sebuah kafe. Zaki dan gadis yang sama di dalam mobil. Zaki menggandeng tangannya di tempat parkir yang gelap. Semua diambil dari sudut tersembunyi, dengan jarak aman, tapi cukup jelas untuk melihat senyum di wajah Zaki. Senyum yang tidak pernah ia lihat di rumah. "Alranita Salim." Rico memulai, suaranya pelan tapi jelas. "Dua puluh tiga tahun. Karyawan baru di perusahaan periklanan tempat Zaki bekerja sebagai general manager. Masuk enam bulan lalu. Hubungan mereka dimulai sekitar dua bulan setelah dia mulai bekerja." Dirga tidak mengalihkan pandangan dari foto-foto itu. Matanya bergerak dari satu gambar ke gambar lain, menyimpan setiap detail. "Mereka berpacaran secara rahasia," lanjut Rico. "Tidak ada yang tahu di kantor. Zaki sangat hati-hati. Dia selalu memastikan tidak ada yang melihat mereka bersama di tempat umum. Tapi akhir-akhir ini mulai ceroboh. Mungkin karena sudah terlalu nyaman." "Enam bulan," ulang Dirga. Suaranya datar, tapi seperti ada yang retak di sana. Retakan kecil yang tak terlihat, tapi terasa di tenggorokannya. "Ya, enam bulan," konfirmasi Rico. "Dan satu bulan lalu, Zaki melamar gadis itu di sebuah restoran di kawasan selatan. Mereka sudah merencanakan pernikahan untuk Jumat dalam Minggu ini." Dirga menutup map itu perlahan. Jari-jarinya menekan kertas cokelat itu hingga meninggalkan bekas lipatan. Pantas saja. Selama ini Zaki tidak mau disetir. Setiap kali Dirga mencoba membicarakan masa depan perusahaan keluarga yang harusnya dikelola bersama, Zaki selalu punya alasan. "Aku mau fokus dulu dengan karirku di Perusahaan lama, Dir. Aku belum siap. Atau, Biar Salsa saja yang urus bagian administrasi, aku lebih nyaman di kantor lama." Dirga selalu mengira Zaki hanya pemalas. Atau tidak terlalu berambisi dengan jabatan. Tapi sekarang ia mengerti. Zaki tidak ingin dikontrol. Zaki ingin bebas, bebas dari pantauan keluarga istrinya, bebas dari tatapan tajam Dirga yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Karena dengan kebebasan itu, Zaki bisa membangun dunia lain. Dunia di mana ia masih lajang. Dunia di mana ia bisa memulai segalanya dari awal dengan wanita lain. "Ada lagi yang perlu saya tambahkan?" tanya Rico. Dirga menggeleng pelan. Tapi tangannya belum melepas map itu. "Satu pertanyaan," ucapnya akhirnya. "Gadis itu ... apakah dia tahu?" Rico terdiam beberapa detik. Lalu menghela napas. "Sulit mengatakan dengan pasti," jawabnya jujur. "Tapi dari pengamatan saya ... dia terlihat seperti orang yang benar-benar tidak tahu. Tidak ada upaya untuk menyembunyikan pertemuan mereka. Tidak ada tanda-tanda dia merasa bersalah. Dia bahkan sempat terlihat sedang memilih gaun pengantin dengan seorang teman perempuan di mal, dan wajahnya ..." Rico berhenti, seolah memikirkan kata yang tepat. "... berseri-seri. Seperti pengantin bahagia pada umumnya." Dirga tidak merespons. Berseri-seri. Ia membayangkan wajah itu. Wajah yang tersenyum di depan cermin toko gaun pengantin, tanpa tahu bahwa pria yang akan dinikahinya sudah memiliki istri di rumah. Wajah yang polos, yang mungkin benar-benar tidak tahu apa-apa. Tapi kemudian Dirga mengingat sesuatu. Foto terakhir di dalam map itu. Zaki dan Alranita Salim di dalam mobil, berdua, dengan jarak yang sangat dekat. Zaki tersenyum ke arahnya, dan gadis itu tersenyum balik. Atau mungkin dia hanya pandai berpura-pura. Dirga tidak akan mengambil risiko. Dua hari sebelum pernikahan. Dirga sudah menyusun rencana. Ia tidak akan memberi tahu Salsa. Tidak sekarang. Salsa sedang mengandung anak kedua, usia kehamilannya sudah lebih dari enam bulan. Perutnya membesar, langkahnya mulai berat, dan akhir-akhir ini ia sering mengeluh pusing. Dokter mengatakan tekanan darahnya sedikit naik. Satu kejutan buruk bisa membahayakan segalanya. Kakaknya. Bayinya. Keluarganya. Jadi Dirga akan mengurus semuanya sendiri. Ia menghubungi Rico lagi. Bukan untuk menyelidiki, tapi untuk bertindak. "Jumat pagi, jam enam," ucap Dirga melalui sambungan telepon, suaranya tenang dan terukur. "Zaki menginap di hotel. Dia akan bersiap untuk pergi ke lokasi akad. Aku mau kamu menjemputnya." "Menjemput?" tanya Rico. "Ya. Bawa dia ke apartemenku. Jaga dia di sana sampai aku datang." Ada jeda. Dirga bisa mendengar Rico menarik napas di ujung lain. "Bisa," jawab Rico akhirnya. "Tapi perlu orang kedua. Untuk membantu." "Arman akan bersamamu." "Baik." Dirga menutup telepon. Lalu ia berdiri di depan jendela apartemennya yang menghadap ke cakrawala Jakarta. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di bawah langit yang mulai gelap. Ia memikirkan Salsa. Kakaknya yang tertawa renyah saat kecil, yang selalu membelanya ketika ia diganggu teman-temannya, yang mengajarinya mengikat sepatu saat ibu mereka terlalu sibuk. Salsa yang menangis bahagia di hari pernikahannya dengan Zaki, enam tahun lalu. Salsa yang sekarang sedang mengandung keponakan barunya, yang setiap malam menunggu suaminya pulang dengan perut besar dan hati yang setia. Dirga mengepalkan tangannya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kakaknya. Jumat pagi. Pukul setengah enam. Rico dan Arman sudah menunggu di lobi hotel sejak pukul lima. Mereka mendapat informasi dari staf hotel yang dengan bayaran cukup, bersedia memberi tahu kamar Zaki. Pukul enam tepat, Zaki keluar dari lift. Kemeja putihnya masih kusam, tas kerjanya tergantung di bahu. Wajahnya cerah, tersenyum kecil, seperti orang yang sedang menanti hari terindah dalam hidupnya. Dia tidak sempat berteriak ketika dua pria menghampirinya dari kiri dan kanan. "Zaki Ramanda?" Rico bertanya, meski sudah tahu jawabannya. Zaki mengerutkan kening. "Iya. Ada apa—" "Kami diminta menjemput Bapak." "Arman!" Zaki mengenali pria itu, asisten adik iparnya. Tangan Rico menggenggam lengan Zaki dari satu sisi. Arman dari sisi lain. Tekanannya cukup untuk membuat Zaki tidak bisa bergerak bebas, tapi tidak cukup untuk menarik perhatian orang-orang yang mulai berdatangan di lobi. "Apa-apaan ini?" Zaki berusaha melepaskan diri, tapi tidak berhasil. "Apa yang kalian inginkan?" "Ini perintah Pak Dirgantara," jawab Arman pelan. Zaki membeku. Wajahnya yang tadi cerah berubah pucat dalam sekejap. Mereka membawa Zaki ke mobil hitam yang terparkir di depan hotel. Zaki tidak banyak melawan, mungkin karena tahu itu sia-sia, atau mungkin karena rasa takutnya sudah menguasai seluruh tubuhnya. Di dalam mobil, Zaki duduk di kursi belakang dengan Rico di sampingnya. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar di pangkuan. "Kalian ... akan membawaku ke mana?" tanyanya, suaranya serak. "Ke apartemen Pak Dirgantara," jawab Arman dari kursi depan, tanpa menoleh. "Kenapa? Apa yang dia mau?" Rico melirik Zaki sekilas. Matanya dingin. "Bapak lebih tahu dari kami." Zaki terdiam. Ia menunduk, dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Apartemen Dirgantara Bayuadji, lantai 27. Zaki didudukkan di kursi ruang tamu. Di sekelilingnya, apartemen itu sunyi. Arman berdiri di dekat pintu, sementara Rico duduk di kursi seberang Zaki, tidak berbicara, hanya menatap. Zaki berusaha tenang. Ia melirik ponselnya, yang sudah diambil Rico sejak di mobil. Di dalam kepalanya, ia terus menghitung waktu. Akad nikah akan dimulai pukul sembilan. Masih ada tiga jam. Tiga jam untuk meyakinkan Dirga agar melepaskannya. Pintu apartemen terbuka pukul setengah delapan. Dirga melangkah masuk dengan jas gelap yang masih tergantung rapi di tubuhnya. Wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia melepas jas itu dan meletakkannya dengan rapi di sandaran sofa, lalu berjalan mendekati Zaki. Zaki mendongak. Mulutnya setengah terbuka, hendak berkata sesuatu, tapi kata-kata itu mati di tenggorokan ketika ia melihat mata Dirga. Mata itu kosong. Tapi kosong dengan cara yang lebih menakutkan daripada amarah. Dirga berdiri di hadapan Zaki. Tidak duduk. Tidak bersandar. Hanya berdiri, dengan tangan di saku celana, menatap ke bawah pada pria yang duduk di sofanya. "Zaki," sapanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Dirga ... aku bisa jelaskan—" "Aku tidak butuh penjelasan." Dirga berjalan ke meja kopi di samping. Ia mengambil map cokelat yang sudah diletakkan Arman sejak tadi. Lalu ia melemparkannya ke pangkuan Zaki. Foto-foto itu berhamburan keluar. Beberapa jatuh ke lantai. Zaki tidak perlu melihatnya untuk tahu apa isinya. "Kamu ... menyelidikiku?" bisik Zaki. "Kamu lalai meletakkan undangan," jawab Dirga dingin. "Itu kesalahan pertamamu." Zaki membeku. "Kesalahan keduamu," lanjut Dirga, suaranya semakin rendah, semakin tajam, "kamu pikir kamu bisa menikahi wanita lain di belakang kakakku?" Zaki tidak menjawab. Tangannya memegang sandaran kursi, buku-buku jarinya memutih. "Kesalahan ketigamu ..." Dirga membungkuk sedikit, menatap Zaki dari jarak yang sangat dekat. "Kamu pikir aku tidak akan tahu?" Keheningan memenuhi ruangan. Zaki akhirnya membuka suara, dengan suara yang bergetar. "Dirga ... aku ... aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi tolong ... biarkan aku pergi hari ini. Akadnya—" "Akadnya akan tetap berlangsung," potong Dirga. Zaki mengerjap. "Apa?" "Tapi bukan dengan kamu." Wajah Zaki berubah dari pucat menjadi benar-benar putih. Dirga menegakkan tubuhnya. Ia mengambil ponsel dari saku, mengecek jam. "Kamu akan tinggal di sini sampai semuanya selesai," ucapnya tanpa menatap Zaki lagi. "Rico akan menjagamu. Jangan coba-coba kabur." "Dirga! Dirga, tunggu—" Dirga sudah berbalik. Ia mengambil jasnya dari sandaran sofa, mengenakannya kembali dengan gerakan yang rapi dan efisien. "Tunggu apa lagi, Zaki?" Dirga menoleh, hanya dengan matanya. "Kamu sudah menunggu enam bulan untuk menikahinya. Apa salahnya menunggu beberapa jam lagi?" Zaki terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata. Wajahnya hancur, matanya basah, tangannya gemetar tak terkendali. Dirga tidak peduli. Ia berjalan ke pintu, melangkah keluar apartemen, dan meninggalkan Zaki di dalam sana bersama Rico yang diam membatu. Di dalam lift, Dirga menatap pantulannya sendiri di dinding kaca. Jasnya rapi. Wajahnya tenang. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang mendidih. Bukan amarah. Bukan kebencian. Tapi tekad yang dingin dan tak tergoyahkan. Hari ini, ia akan menghentikan pernikahan itu. Dengan caranya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD