Ara tidak tinggal diam.
Darahnya mendidih. Bukan karena marah, tapi karena ketidakadilan yang begitu kentara, begitu kasar, begitu membutakan. Ia korban di sini. Korban penipuan Zaki. Korban kebohongan yang dirancang rapi oleh pria yang selama enam bulan ia percaya. Dan sekarang, pria lain yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu, dengan seenaknya menghakimi dan menghukum.
Pria itu, Dirgantara Bayuadji, yang menolak pembatalan pernikahan dengan enteng, yang menyebut pernikahan mereka sebagai hukuman untuknya, seolah Ara adalah penjahat yang pantas menerima vonis.
Tidak.
Ara tidak akan mau menerimanya begitu saja. Ini kesalahan.
"Kenapa kamu menolak pembatalan pernikahan yang ditawarkan papaku?! Kenapa?"
Suaranya meledak. Bukan teriakan histeris, tapi teriakan orang yang sudah terlalu lama menahan semuanya, sejak pagi, sejak pria ini melangkah masuk ke tenda, sejak air matanya jatuh untuk pertama kalinya.
Dirga, yang masih berdiri di depannya dengan tangan di saku, bergeming. Wajahnya masih datar, seperti tidak mendengar teriakan yang menggema di ruang tamu luas itu.
"Kamu sudah dengar apa yang saya katakan tadi. Kamu tidak tuli, kan?"
Ara merasakan dadanya terasa seperti ditekan batu besar. Kedua tangannya mengepal di sisi paha, kuku-kukunya menusuk telapak tangan hingga hampir berdarah.
"Aku korban di sini!" Suaranya meninggi lagi, bergetar di ujung. "Mengapa kamu tidak mau dengar juga? Hah?!"
"Korban?"
Dirga menggelengkan kepalanya. Gerakannya lambat, penuh arti. Seolah Ara baru saja mengatakan lelucon yang paling tidak lucu yang pernah ia dengar.
"Korban apa?" Ia menatap Ara, dan tatapannya itu tajam, menusuk, membuat bulu kuduk Ara berdiri. "Sampai enam bulan dan minta dinikahi?"
Ia kembali melangkah maju hingga menutup jarak. Ara mundur setengah.
"Kamu sudah dipakai, heh?!"
Kalimat itu jatuh seperti pukulan tinju tepat di ulu hati.
Sepasang mata Ara terbelalak. Bukan karena marah. Tapi karena tidak percaya. Tidak percaya bahwa seorang pria yang baru beberapa jam yang lalu mengucapkan ijab kabul untuknya, bisa mengucapkan kata-kata serendah itu. Serendah itu. Sekasar itu.
"Demi Tuhan, kami tidak pernah berbuat sejauh itu!" Suara Ara pecah, tapi ia memaksanya keluar. "Tidak pernah!"
Dirga mendengus. Satu suara pendek dari hidungnya yang terdengar seperti tamparan kedua.
"Kamu pikir saya mau percaya?"
"Aku gak peduli kamu mau percaya atau tidak!" Ara hampir berteriak. Tangannya yang mengepal kini gemetar. "Tapi aku berani sumpah tidak pernah melakukan hal serendah itu. Aku bisa menjaga diriku."
"Enam bulan pacaran dan kalian tidak pernah berbuat itu?"
Sekarang giliran Dirga yang menaikkan nada suaranya. Bukan teriakan, tapi ada tekanan di sana, tekanan orang yang sudah yakin dengan kebenarannya sendiri, yang tidak butuh bukti lain karena ia sudah memvonis sejak awal.
"Kamu pikir saya bodoh?!"
Ia berjalan mendekat. Ara mundur lagi, punggungnya hampir menyentuh dinding.
"Zaki adalah pria b******k, dia tidak mungkin memacari kamu tanpa mendapat jatah."
Ara menggigit bibirnya. Keras. Hampir berdarah. Tapi dia sudah mengatakan dengan jujur.
"Saya dengar, Zaki juga membelikan kamu sepeda motor." Dirga mengerucutkan bibir, mengejek. "Lantas bagaimana cara kamu membalasnya, hm?"
Ara menatap pria itu dengan mata yang bergetar. Bukan karena takut. Tapi karena sakit. Sakit yang luar biasa, seperti ada pisau yang diputar perlahan di dadanya. Kepalanya menggeleng pelan, lemah, tapi tegas.
"Kamu pikir setiap hubungan selalu harus melakukan hal kotor itu?" Suaranya lirih, tapi setiap kata terasa berat. "Picik sekali pikiranmu."
"Lantas apa yang bisa kamu berikan pada Zaki?"
Dirga sekarang berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Ara bisa merasakan panas dari tubuh pria itu, wangi parfumnya yang tajam, dan amarah yang terpancar dari setiap pori-porinya.
"Dia sudah punya segalanya. Dia tidak butuh materi."
Ia menunduk, menatap Ara dari atas. Tatapannya bukan tatapan seperti suami ke istri. Tapi tatapan algojo kepada terhukum.
"Lantas apa yang bisa kamu berikan padanya jika bukan dengan tubuhmu?!"
Plak!
Suara tamparan itu memecah keheningan ruang tamu. Keras. Jelas. Menggema di antara dinding-dinding yang masih baru.
Tubuh Ara menegang.
Tangannya terasa kebas. Panas. Seperti terbakar. Ia baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan setelah telapak tangannya meninggalkan bekas merah di pipi pria itu.
Dirga diam.
Pipinya yang putih kini tampak kemerahan. Tapi ia tidak menyentuhnya. Tidak bergerak. Hanya menatap Ara, masih dengan tatapan dingin yang sama. Seolah tamparan itu tidak cukup untuk membuatnya merasakan apa pun selain amarah yang sudah membeku.
"Kamu suka dengan kekerasan rupanya," ucapnya sinis. Suaranya datar, tapi ada ujung tajam yang siap menggorok.
"Kamu yang lebih dulu menuduhku yang tidak-tidak!" Ara berteriak, tapi suaranya pecah di tengah jalan. Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya jatuh. "Kamu tidak tahu apa-apa!"
"Karena itu benar!"
Dirga bergerak cepat. Lebih cepat dari yang Ara duga.
Tangannya menyambar pergelangan tangan Ara, cengkeraman besi yang langsung membuat Ara merasakan sakit di tulang-tulang kecilnya.
"Kamu w************n!"
"Tidak!" Ara berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman itu terlalu kuat. "Lepaskan aku!"
Dirga tidak mendengar. Atau mendengar, tapi tidak peduli.
Ia menyeret Ara menuju tangga. Langkahnya panjang, cepat, penuh amarah yang selama ini ia pendam. Ara tersandung di anak tangga pertama, lututnya menghantam pinggiran marmer dengan keras, tapi Dirga tidak berhenti. Ia terus menarik, terus menyeret, seperti Ara bukan manusia tapi karung beras yang harus dipindahkan.
"Tidak! Lepaskan aku!" Ara kembali berteriak, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Dirga.
Setiap anak tangga terasa seperti siksaan. Ara mencoba memegang pegangan tangga, tapi tangannya terlepas karena cengkeraman Dirga yang terlalu kuat. Kakinya terbentur di sudut-sudut marmer. Sakit. Tapi sakit yang fisik tidak sebanding dengan sakit yang ia rasakan di dadanya.
Hingga akhirnya mereka tiba di lantai atas.
Dirga membuka pintu kamar, satu dorongan keras yang membuat pintu terbanting ke dinding, lalu mendorong Ara ke dalam.
Ara jatuh.
Tubuhnya menghantam ranjang dengan kasar, kasur empuk menangkap tubuhnya tapi tidak mengurangi rasa hancur yang ia rasakan. Ia segera bangkit, mencoba turun, tapi Dirga sudah berdiri di ambang pintu dengan tubuh yang membelokkan cahaya dari lorong.
"Tidak!" Ara berteriak, suaranya parau. "Kamu mau apa?!"
Dirga tidak menjawab.
Ia melepas jas hitamnya dengan gerakan cepat, tanpa basa-basi, dan melemparnya ke lantai. Jas itu jatuh di dekat kakinya, seperti kulit ular yang terbuang.
"Memberi pelajaran pada w************n seperti kamu."
Suaranya terdengar sengal. Napasnya naik turun, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang tidak bisa lagi ia kendalikan.
Ara menggelengkan kepala. Keras. Cepat.
Ia bangun terduduk, lalu turun dari ranjang dengan gerakan yang hampir jatuh. Tubuhnya beringsut di lantai, p****t dan tangannya merayap ke belakang, menjauhi pria itu, hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin.
Di sana, ia memeluk lututnya. Tubuhnya gemetar hebat.
"Jangan ...," bisiknya. Suaranya hampir tidak terdengar, bahkan oleh telinganya sendiri.
Dirga masih berdiri di tengah ruangan.
Cahaya bulan dari jendela masuk tipis, menerangi setengah wajahnya. Tiga kancing kemejanya sudah terlepas, mungkin saat ia menarik Ara, mungkin saat ia melepas jasnya. Sekilas d**a bidangnya terlihat, naik turun mengikuti napas yang masih belum stabil.
Tapi ia tidak bergerak mendekat.
Ia hanya berdiri di sana, menatap Ara yang meringkuk di sudut ruangan seperti anak tikus kedinginan yang ketakutan.
Ara menekuk kakinya lebih erat. Wajahnya ia benamkan di antara lutut dan dadanya. Ia tidak mau melihat pria itu. Tidak mau melihat bayangannya. Tidak mau mendengar suaranya.
Ia hanya ingin menghilang.
Ingin terbangun dari mimpi buruk ini.
Tapi mimpi buruk ini nyata. Dingin dinding ini nyata. Bau parfum pria ini nyata. Dan rasa takut yang merayap di sekujur tubuhnya juga nyata.
Dirga menghela napas.
Panjang. Berat.
"Kamu pikir saya mau menyentuhmu?"
Suaranya kembali datar. Tapi ada sesuatu di sana, bukan kelembutan, bukan penyesalan, tapi mungkin juga karena kelelahan.
"Saya tidak sudi dengan bekas Zaki."
Ia berbalik.
Langkahnya meninggalkan ruangan dengan tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa detik lalu hampir kehilangan kendali.
Pintu tertutup.
Tidak dibanting. Hanya ditutup. Tapi suara dari kunci yang berputar dari luar terdengar jelas di telinga Ara.
Terkunci.
Ia sendirian di dalam ruangan yang gelap, di rumah orang asing, di lantai yang dingin, dengan tubuh yang masih gemetar dan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.
Isak tangisnya semakin kencang.
Ia memeluk lututnya lebih erat, menggigit bibirnya agar suaranya tidak keluar terlalu keras, tapi tidak ada gunanya. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang akan datang.
Di luar, suara langkah kaki menjauh.
Dan Ara tahu, malam pertamanya sebagai istri Dirgantara Bayuadji, tidak akan pernah ia lupakan. Bukan karena kehangatan. Tapi karena dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsumnya.