9. Aku Bukan Anjing

1453 Words
Ara membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat seperti ditindih batu besar. Cahaya pagi masuk menerobos celah tirai yang bergerak lembut ditiup angin, garis-garis tipis keemasan jatuh di lantai kamar, menciptakan pola yang bergoyang-goyang. Tubuhnya masih berbaring di atas ranjang, dalam posisi menelungkup, satu tangan terlipat di bawah bantal, tangan lainnya menggantung di tepi kasur. Matanya berat. Sakit. Seperti ada pasir di dalamnya. Karena terlalu banyak menangis semalam. Ia tidak ingat persis kapan ia tertidur. Yang ia ingat hanyalah meringkuk di sudut ruangan, memeluk lutut, menangis sampai suaranya serak dan matanya perih. Kemudian entah bagaimana, ia memindahkan dirinya ke ranjang, mungkin karena dinginnya lantai akhirnya tak tertahankan, mungkin karena tubuhnya terlalu lelah untuk terus melawan. Sekarang, untuk pertama kalinya setelah tadi malam ia diseret ke ruangan ini secara paksa, Ara mulai mengamati sekeliling. Kamar ini dindingnya putih polos, bukan putih krem yang hangat, tapi putih bersih seperti dinding rumah sakit atau hotel. Tidak ada hiasan. Tidak ada foto. Tidak ada cermin besar di dinding. Hanya sebuah ranjang, lemari besar di sebelah kiri, dan meja rias di dekat lemari. Meja rias itu masih kosong, tidak ada parfum, tidak ada sisir, tidak ada bedak. Seperti kamar yang belum pernah dihuni. Atau kamar yang tidak pernah diharapkan akan dihuni siapa pun. Ara masih dalam posisi berbaring, matanya berpindah dari satu sudut ke sudut lain, menyimpan setiap detail ke dalam ingatannya. Mungkin ia harus tahu persis seperti apa penjaranya. Kemudian, suara dering ponsel memecah keheningan. Nada dering itu familiar. Ponselnya. Ara tersentak. Ia bangun dari posisi berbaringnya dengan gerakan cepat, hampir jatuh karena tangannya terpeleset di seprai. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, matanya mencari-cari tas selempang cokelat mudanya yang tadi malam ia bawa dari rumah orang tuanya. Tas itu tidak ada di ranjang. Tidak ada di lantai dekat lemari. Tidak ada di atas meja rias. Suara dering masih terus berbunyi, semakin lama semakin terasa seperti alarm yang mengingatkannya bahwa ia terdampar di tempat asing tanpa benda yang menghubungkannya dengan dunianya. "Di mana?" gumam Ara, suaranya serak karena semalaman tidak digunakan kecuali untuk menangis. Ia turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, masih sedingin tadi malam. Ia berjalan ke sudut ruangan, ke dekat lemari, lalu ke meja rias. Tidak ada. Ia membungkuk memeriksa kolong ranjang. Ia tidak menemukan keberadaan benda itu. Lalu, suara dering itu mati. Hening lagi. Ara berdiri di tengah ruangan dengan napas yang mulai memburu. Dadanya naik turun. Bukan karena lelah, tapi karena kemarahan yang mulai merambat naik dari dalam perutnya. "Pasti dia," gumamnya. Suaranya bergetar, tapi bukan karena takut. Ia berjalan ke arah pintu. Tangannya meraih gagang dingin itu, memutarnya, dan benar saja. Pintu tidak bergerak. Terkunci. Dari luar. "Aku ini istri apa tahanan, sih?!" Sungutnya meledak. Tidak lagi bisik, tidak lagi gumam. Ia membentak pintu itu seolah pintulah yang bersalah. Tangannya mengepal. Lalu ia angkat dan menggedor-gedor. "Dirga! Buka pintunya!" Suaranya keras, memantul dari dinding putih kamar yang kosong. Ia tidak peduli jika tetangga sebelah mendengar. Ia tidak peduli jika seluruh perumahan ini tahu bahwa wanita di dalam rumah ini dikunci seperti burung dalam sangkar. "Dirga! Buka pintunya!" Jika pria itu pikir ia akan diam saja. Jika pria itu pikir ia akan pasrah dan menerima nasib sebagai tahanan di rumah sendiri, ia salah besar. Ara bukan wanita lemah. Ia mungkin menangis semalaman, tapi air mata tidak pernah membuatnya menjadi pecundang. Kaki-kakinya yang masih telanjang menapak dinginnya lantai, tapi ia tidak merasakan apa-apa. Yang ia rasakan hanyalah panas di dadanya, panas yang membuatnya terus memukul pintu itu meski telapak tangannya mulai terasa perih. Kemudian, suara anak kunci diputar. Sekali. Dua kali. Ara refleks melangkah mundur. Kakinya bergerak cepat, mundur tiga langkah, empat langkah, hingga tumitnya menabrak ujung ranjang kayu. Ia hampir jatuh duduk, tapi berhasil menahan keseimbangan dengan meraih tiang ranjang. Pintu terbuka perlahan. Dan di ambang pintu, berdiri Dirgantara Bayuadji dengan kemeja putih lengan panjang yang tidak dikancing di pergelangan, digulung rapi hingga siku. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin baru selesai mandi. Wajahnya segar, seperti orang yang tidur nyenyak semalaman. Sementara Ara yakin wajahnya sendiri sekarang merah, sembab, dan hancur. "Bisa tenang sedikit?" tanya pria itu. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti sedang menegur anak kecil yang ribut di pagi hari. "Kenapa juga kamu ngunciin aku di kamar?" Ara tidak menurunkan nadanya. Tangannya masih memegang tiang ranjang, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. "Kamu pikir aku ini tahanan?" Dirga menatapnya. Matanya bergerak dari wajah Ara yang merah, ke tangannya yang menggenggam tiang ranjang, lalu ke lantai kamar yang masih berantakan dengan selimut yang jatuh. Ia tidak terburu-buru menjawab. Malah, ia menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, tangan bersilang di d**a. "Kamu benar," ucapnya akhirnya. "Kamu adalah tahanan di sini." Ara merasakan dadanya seperti ditusuk. Bukan karena sakit hati, rasa sakit hati sudah tidak cukup untuk menggambarkan ini. Ini lebih seperti kemarahan yang membakar setiap pembuluh darahnya. "Aku istrimu!" teriak Ara. Suaranya pecah, tapi ia memaksanya keluar. "Istrimu, Dirga!" Dirga tertawa. Bukan tawa hangat. Bukan tawa bahagia. Tapi tawa pendek, satu embusan dari hidung, disertai lengkungan tipis di sudut bibir, tawa yang mengandung ejekan murni. Tawa yang mengatakan bahwa Ara baru saja mengucapkan hal paling lucu yang pernah ia dengar. Ia melepaskan tangannya dari d**a, lalu berjalan masuk ke kamar. Tidak terburu-buru. Setiap langkahnya santai, seperti orang yang berjalan di tamannya sendiri. Ara mundur lagi, sekarang pantatnya menyentuh ranjang. "Tahu kenapa saya nikahi kamu?" Dirga berhenti dua meter dari Ara. Matanya menatap wanita di hadapannya, wanita dengan rambut acak-acakan, wajah sembab, dan mata merah karena semalaman menangis. Tidak ada bagusnya sama sekali dimatanya. Ara hanya menatapnya. Ia tahu. Ia tahu betul alasan pria ini menikahinya. Bukan karena cinta. Bukan karena terpikat. Tapi karena ingin menghukum. Menghukumnya atas dosa yang bahkan tidak ia lakukan. Alasan yang tidak masuk akal, tapi pria ini begitu yakin dengan kebenarannya sendiri. "Karena saya tidak mau ada korban lagi," kata Dirga, suaranya masih datar, "kamu godain suami orang." Godain suami orang. Tiga kata itu terasa seperti tiga pukulan berturut-turut di wajah Ara. "Astaga!" Ara berjalan mondar-mandir di hadapan Dirga. Langkahnya cepat, seperti ia berusaha membuang energi yang meledak-ledak di dalam tubuhnya. Tangannya naik ke rambut, menarik-narik helaiannya dengan frustrasi. "Berapa kali aku katakan—" Ia berhenti, menoleh ke arah Dirga dengan mata yang menyala. "Berapa kali aku harus bilang, kalau aku yang korban di sini!" Ia menunjuk dadanya sendiri, menekan jari telunjuknya ke tulang d**a. "Aku yang kena tipu!" Dirga kembali melangkah mundur. Kembali melipat kedua tangannya di d**a, dan bersandar pada kusen pintu. Wajahnya tidak berubah, tetap datar, tetap dingin. Seperti orang yang menonton film yang sudah ia tahu akhir ceritanya. Ara melangkah mendekat. Ia tidak takut lagi. Atau mungkin ia takut, tapi amarahnya lebih besar dari ketakutannya. "Kakak ipar kamu yang b******n!" suaranya meninggi lagi, jari telunjuknya sekarang menunjuk ke arah Dirga dengan penuh keberanian. "Dia bohongi aku! Bohongi orang tuaku! Dia bilang dia belum menikah, dia bilang masih lajang, dia serius sama aku, dia bilang—" Suaranya tersendat. Air mata yang sejak tadi ditahan, mulai menggenang lagi di pelupuk matanya. "Dia bilang banyak hal," lanjutnya, kali ini lebih pelan. Suaranya bergetar. "Dan aku percaya. Karena aku tidak punya alasan untuk tidak percaya." Dirga masih diam. Ia menghadapi kemarahan Ara dengan santai, seperti badai yang tidak pernah bisa menggoyahkan pohon yang akarnya sudah tertanam dalam. Kedua tangannya masih terlipat di d**a. Punggungnya masih bersandar pada kusen pintu. Matanya masih menatap Ara dengan ekspresi yang sama. Dingin. Datar. Tanpa rasa iba. Udara di kamar itu terasa panas, meskipun AC di pojok ruangan masih menyala dengan suara dengung pelan. Dua orang berdiri berhadapan, dengan jarak yang tidak cukup dekat untuk bersentuhan, tapi cukup dekat untuk saling membenci. Ara mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun dengan cepat. "Kamu tidak akan pernah percaya, kan?" bisiknya. "Tidak peduli apa yang aku katakan." Dirga tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban. Dan Ara, untuk pertama kalinya pagi itu, tidak lagi berteriak. Ia hanya menatap pria di hadapannya, pria yang secara hukum adalah suaminya, dan menyadari bahwa tidak ada gunanya. Tidak ada gunanya menjelaskan. Tidak ada gunanya berteriak. Tidak ada gunanya berusaha meyakinkan seseorang yang sudah memutuskan untuk membenci sejak awal. Ia berbalik. Punggungnya menghadap Dirga, dan ia berjalan ke arah jendela. Tangannya meraih tirai, menariknya sedikit, membiarkan cahaya pagi masuk lebih banyak. "Kalau kamu tidak mau membatalkan pernikahan ini," ucap Ara, tanpa menoleh, "setidaknya jangan kunci aku di kamar. Aku bukan anjing." Suaranya tidak lagi bergetar. Tidak lagi marah. Hanya lelah. Dirga, di belakangnya, tidak segera menjawab. Tapi beberapa detik kemudian, Ara mendengar suara langkah kaki mundur, lalu tidak ada suara pintu yang tidak ditutup, seperti pintunya dibiarkan terbuka. Ia tidak menoleh untuk memastikan. Matanya hanya terus menatap cahaya pagi yang masuk melalui celah tirai, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa di luar sana, masih ada dunia yang tidak dipenjara oleh pria bernama Dirgantara Bayuadji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD