Sementara itu… Mimi berjalan di lorong kantor sambil menenteng map kosong. Iya, kosong. Isinya cuma kertas satu lembar bertuliskan: “Catatan: Jangan lupa makan.” Ia berhenti di depan mesin minum otomatis, menatapnya lama. “Mesin ini canggih ya…” gumam Mimi kagum. “Kalau di kampungku, yang otomatis cuma utang.” Ia memasukkan koin. Koin dari Isabel yang katanya untuk minum. Isabel memang paling perhatian padanya. Mesin berbunyi KRAKKK. Minuman tidak jatuh. Mimi menunduk, menempelkan wajah ke kaca. “Heh… jangan gitu dong. Aku lagi stres.” Ia menepuk kaca pelan. “Jatuh ya. Jangan keras kepala, nanti jadi kayak aku.” Minuman tetap tidak bergerak. Mimi menghela napas panjang. “Ya sudah… mungkin kamu juga lagi capek.” Ia melangkah pergi. DUUK! Minuman akhirnya jatuh tepat saat Mi

