Isabel menggulingkan tubuh di atas ranjang Mimi, menatap langit-langit dengan wajah kusut. “Mi… menurut kamu aku ini kenapa sih?” gumamnya. Mimi melirik malas, satu mata masih terpejam. “Kalau jam segini dan nada kamu kayak orang kehilangan dompet, biasanya sih… jatuh cinta.” Isabel langsung bangkit setengah duduk. “Hei! Jangan asal vonis!” “Lah, kamu sendiri yang datang tengah malam, bukan minta mie instan tapi minta nasihat,” sahut Mimi sambil menarik selimut sampai ke dagu. Isabel menghela napas panjang. “Aku bingung… tentang Leon. Dan… Peter.” Mimi langsung menyahut. “Nah, kan. Lengkap. Lokal dan impor.” “Mi! yang serius!” Isabel melempar bantal kecil ke arah Mimi. Mimi menangkapnya sambil nyengir. “Oke, oke. Cerita pelan-pelan. Mulai dari yang bikin kamu deg-degan dulu.” Isa

