Pagi itu tidak ada pesta besar. Tidak ada gaun berkilau atau dekorasi berlebihan. Hanya langit cerah, angin yang lembut, dan satu janji yang akhirnya ditepati. Mimi berdiri di depan cermin kamar, mengenakan kebaya sederhana berwarna gading. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan ujung lengan, bukan karena ragu, melainkan karena hatinya terlalu penuh. Ia teringat dirinya yang dulu. Gadis desa yang sering menunduk, takut bermimpi terlalu tinggi, takut berharap terlalu jauh. Kini, ia berdiri di sini. Bukan sebagai seseorang yang diselamatkan, melainkan seseorang yang berhasil bertahan. Ketukan pelan terdengar di pintu. “Mi,” suara Irwan terdengar dari balik pintu. “Sudah siap?” Mimi menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum. “Siap.” Saat pintu terbuka, Irwan berdiri di sana de
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


