77. Ketika Penyesalan Tidak Lagi Cukup

1191 Words

Yuni menarik lengan sang ibu keluar dari restoran. Beberapa pengunjung tampak menunjuk-nunjuk dan berbisik, membuat langkah Yuni semakin gontai. “Ibu… kenapa bisa sampai begitu?” ujar Yuni dengan suara bergetar. Wajahnya pucat, matanya sembab menahan tangis. “Mas Dika pasti tambah marah padaku…” Siti menghentikan langkahnya, menatap Yuni dengan sorot kecewa yang tidak ia sembunyikan. “Apa yang ibu bilang!” bentaknya pelan tapi tajam. “Kau punya ibu seperti aku, kenapa kau lemah sekali?” Yuni terdiam. “Lihat si Mimi!” lanjut Siti, nadanya meninggi. “Dia selalu menang dari kamu. Dari dulu sampai sekarang! Bahkan sekarang dia dapat calon suami yang jauh melebihi Dika.” Siti menggelengkan kepala. “Kamu selama ini ngapain saja, Yuni? Apa yang kamu punya sampai kalah begitu telak?” Ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD