76. Cup yang Mengubah Segalanya

1210 Words

Setelah Mimi dan Irwan melangkah keluar, Dadang ikut menyusul. Sejak tadi ia hanya diam, menyaksikan semua kejadian tanpa sepatah kata pun. Restoran itu mendadak hening, seolah baru saja dilewati badai. Beberapa menit berlalu sebelum Dika akhirnya bergerak. Dengan wajah tertunduk, ia melangkah ke arah kasir, berniat membayar. Namun pegawai kasir menggeleng pelan. “Sudah dibayar, Mas.” Dadang eang sudah membayar nota itu atas suruhan Irwan. Dika terdiam. Dadanya terasa semakin sesak. Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari restoran. Ia tidak menoleh ke arah Siti. Bahkan tidak berani menatap sekitarnya. Malu. Bukan hanya pada orang-orang di sekeliling restoran yang sejak tadi mencuri-curi pandang, tapi lebih dari itu, ia malu pada Mimi. Perempuan yang pe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD