77. Yang Diremehkan, Justru Dimenangkan

1073 Words

Sherly berdiri di depan cermin butik, menatap bayangannya sendiri. Gaun mahal membalut tubuhnya sempurna, rambutnya tertata rapi. Namun satu hal membuat dadanya terasa sesak. Irwan. Pria itu seharusnya berdiri di sisinya. Bukan bersama perempuan desa yang bahkan, sekolah pun tak tamat. “Tidak masuk akal,” gumam Sherly lirih. “Seorang Irwan… pemimpin perusahaan besar… bersama Mimi?” Sejak pertemuan di bandara itu, sesuatu dalam diri Sherly berubah. Bukan lagi sekadar iri. Ini obsesi. Dan obsesinya hanya punya satu tujuan: merebut Irwan kembali. Kesempatan itu datang ketika Sherly bertemu Mimi di sebuah acara kecil perusahaan. Mimi berdiri agak canggung, saat Irwan meninggalkannya sejenak untuk berbicara dengan rekan bisnisnya. Mimi memang terlihat cantik mengenakan gaun sede

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD