80. Di Balik Pelukan yang Posesif

1166 Words

Saat pesta itu usai, Sherly hanya bisa menelan pahit yang tertinggal di dadanya. Bukan karena musik berhenti, bukan pula karena lampu mulai diredupkan, melainkan karena pemandangan terakhir yang tidak bisa ia usir dari kepala. Irwan. Dan Mimi. Sebelum pulang, Irwan bahkan sempat mengenalkan Mimi pada beberapa rekan bisnisnya. Dengan sikap santai. Dengan nada bangga. Tanpa sedikit pun ragu atau rasa malu. Seolah Mimi adalah sesuatu yang pantas dipamerkan. Seolah perempuan itu adalah pilihannya yang paling benar. “Sher,” panggil salah satu temannya pelan, namun cukup tajam menusuk hati. “Itu Irwan… mantan kekasihmu, kan?” Sherly menegakkan bahunya, menyembunyikan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. “Iya,” jawabnya singkat. “Udah putus.” “Oh…” temannya tampak ragu sejenak, lalu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD