Bab 07. Ingin Cepat-Cepat Selesai

1266 Words
Reno tak peduli ucapan Bella. Dengan cepat, dia meninggalkan wanita itu dan langsung menuju kamar Erika, seakan-akan ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya. Tok, tok, tok! Beberapa kali Reno mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Ketegangan di dadanya semakin menguat, namun pintu kamar itu tetap tak terbuka. Dia memutar kenop dan membukanya, namun apa yang dilihatnya membuat seluruh dunia seakan runtuh. Ruangan itu kosong, sepi mencekik, tak ada tanda-tanda keberadaan Erika. Kekosongan itu seperti lubang hitam yang menyedot harapan dan asa. Reno mencari ke seluruh sudut, bahkan hingga ke kamar mandi yang dingin dan kosong, tapi tidak juga menemukan sosok istrinya. Di benaknya berputar pertanyaan yang menyakitkan, "Ke mana Erika pergi pagi-pagi seperti ini? Apa dia pergi dengan alasan yang tidak bisa dikatakan, atau dia sedang menghindariku?" Pikiran itu membutakan nalar, menyisakan rasa cemas yang mencekik d**a. "Apa mungkin dia ada keperluan? Cih, dia hanya wanita rumahan, apa yang bisa dia lakukan di luar rumah?" gumamnya dengan nada mencemooh. Tapi dalam hatinya berguncang, sesuatu yang tak dia mengerti, merasakan sebuah kehilangan yang mendalam. Tiba-tiba, Bella mendekat, mengusap bahu Reno dengan lembut, lalu bertanya dengan nada provokator, "Erika nggak ada di kamarnya, Kak? Jangan-jangan dia kabur!" Reno menggenggam kedua kepalan tangannya, wajahnya tampak tegang, seperti menanggung beban yang tidak mampu lagi dia tahan. "Aku tidak tahu. Lebih baik sekarang aku antar kamu pulang," sahutnya, tatapannya penuh ledakan kekhawatiran dan ketidakpastian, dunia yang tadinya tenang berubah menjadi lautan kekalutan yang tak bertepi. *** Reno duduk termenung di kursi pengemudi, wajahnya tampak keruh oleh kekhawatiran yang tak bisa dijelaskan. Pikirannya terusik oleh bayangan Erika, wanita yang selama satu tahun terakhir ini ia abaikan, tapi kini tak bisa lepas dari benaknya. Ketidaknyamanan itu merayapi hatinya seperti api yang membara dalam diam. Bella yang duduk di samping Reno, merasakan perubahan sikap pria itu dengan jelas. "Kak, kamu kenapa? Kamu kelihatan gelisah. Jangan-jangan karena Erika, ya? Kamu takut atau memang nggak terima dia tiba-tiba pergi tanpa kabar?" Suaranya lirih tapi tegas, mencoba merengkuh perhatian Reno yang makin menjauh. Namun bukan jawaban yang diterima, melainkan rasa terkejut karena tiba-tiba rem mobil berdecit keras dan mendadak berhenti di tengah jalan. Jantung Bella serasa tercekat, tangan dan kakinya membeku di tempat. "Kak Reno, kamu apa-apaan, sih?! Kamu sudah gila, ya? Kamu sengaja mau buat aku mati mendadak?!" teriak Bella panik, suaranya pecah di bawah tekanan yang mengikat d**a. "Apa kamu tidak bisa diam, Bella?! Kalau kamu hanya biasa menuduhku sembarangan tanpa bukti, lebih baik kamu diam! Aku sedang fokus menyetir," ucap Reno dengan suara yang bergetar penuh emosi, seolah menahan ledakan yang membara di dalam dadanya. Mendengar kalimat itu, Bella mendadak bungkam, kehilangan kata-kata, walaupun jauh di dalam hatinya, amarah yang membara hampir meledak. Sebenarnya dia sangat kesal, ingin sekali membantah, tapi ketakutan akan konsekuensi yang lebih buruk membuatnya tetap diam dan tak berdaya. "Awas aja kamu, Reno. Kalau sampai kamu benar-benar memikirkan wanita itu, aku tidak akan tinggal diam!" bisiknya dalam hati, terselimuti campuran rasa sakit dan dendam yang memuncak. *** "Kak, seharusnya kamu nggak perlu repot-repot nemenin aku di sini. Aku bisa melakukan semuanya sendiri, yang penting kamu doakan saja supaya semuanya lancar," ujar Erika dengan tatapan penuh rasa haru, saat kakaknya datang dan menemaninya mengurus perceraiannya dengan Reno. "Bagaimana mungkin aku diam saja, Erika? Setelah aku mendengar semuanya, aku juga ikut sakit. Tidak usah sok kuat, aku tahu, kamu juga bisa rapuh. Saat kamu bilang akan kembali kepada keluarga, aku benar-benar senang dan tidak sabar membawa kamu pulang ke rumah. Aku merindukan kamu, adikku satu-satunya yang selama ini menjauh dari keluarga karena laki-laki b******k itu," kata Rey dengan suara bergetar. Mendengar ucapan kakaknya, Erika menelan air liurnya dengan susah payah, wajahnya penuh duka yang mendalam. "Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku memang bodoh, aku nggak pernah mau mendengarkan apa kata kamu, mama dan papa." Suaranya gemetar, penuh penyesalan yang mengoyak hati. "Reno itu laki-laki kejam, Kak. Dia nggak pernah cinta sama aku. Tujuan dia menikahi aku hanya untuk balas dendam atas kematian Dania. Dia mengira aku yang membunuh Dania, padahal … itu semua fitnah. Dia lebih percaya dengan ucapan busuk Bella, Kak." Kata-kata itu meluncur, keluar dari bibir Erika seperti pisau tajam yang menyayat jiwa, membuktikan bahwa kebenaran yang pahit itu justru menghancurkan harapannya sendiri. Rasa sakit, kecewa dan penipuan bercampur jadi satu, mengguncang d**a yang selama ini telah berjuang keras untuk bertahan. Rey merasakan getaran luka yang mendalam menyusup ke dalam hati adiknya. Dengan lembut, ia memeluk Erika, berusaha menyalurkan kekuatan dan kehangatan yang begitu ia rindukan. Matanya berkaca-kaca penuh penyesalan, suaranya tergetar saat berkata, "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak pernah menyangka, selama setahun terakhir ini kamu hidup menderita. Tapi kamu dengar, aku janji, aku akan membalas semua kejahatan laki-laki k*****t itu! Aku akan membantumu menuntut keadilan, sampai dia menyesal karena sudah menyia-nyiakan dan menyakitimu. Setelah kamu resmi bercerai, aku yakin, dia akan menyesal dan menanggung semua dosa yang pernah dia perbuat terhadapmu!" Suaranya mengandung tekad membara, seperti api yang tak pernah padam. Erika menatap tajam ke arah kakaknya, air mata bercampur luka dan harapan. "Kak, aku cuma mau selesai dengan semua ini. Dengan bukti-bukti yang aku kumpulkan, aku percaya pengadilan akan segera mengabulkan gugatan cerai ini. Aku sudah nggak mampu bertahan lagi, aku benar-benar ingin keluar dari semuanya ini!" ucapnya bergetar, suara yang penuh keputusasaan dan kekecewaan yang menyayat hati. Rey memeluk Erika lebih erat, wajahnya penuh keprihatinan dan kekhawatiran. "Ya, kamu tenang saja. Kamu dan pria b******n itu pasti akan segera berpisah. Ingat, masih ada keluarga yang sangat menyayangi dan menunggumu pulang. Untunglah, kamu akhirnya menyadarinya. Aku sudah tidak sabar membawa kamu pulang. Papa dan mama sudah sangat merindukanmu," katanya dengan suara penuh haru dan tekad kuat, seakan dunia pun ikut menyematkan doa agar jalan keluar untuk mereka segera terbuka. Tanpa ragu, Erika menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Aku juga kangen banget sama mama dan papa. Aku juga mau minta maaf," katanya. Dia merasa sedikit lega, disaat hatinya yang sedang rapuh dan putus asa, dia masih memiliki keluarga yang begitu menyayanginya, walaupun sikapnya selama dua tahun ini sudah sangat mengecewakan mereka. * Setelah urusannya hari ini selesai, Rey dan Erika hendak meninggalkan tempat tersebut. Tapi tiba-tiba, ponsel Rey bergetar kencang, memecah hening siang itu. Ia sengaja mengabaikan dering itu, yakin tidak ada yang lebih penting daripada kehadiran adiknya di sampingnya saat ini. "Kak, kenapa nggak dijawab teleponnya? Itu bunyi terus, Kak." Suara Erika penuh kecemasan. "Bagaimana kalau ada hal penting?" Rey menghela napas panjang, mencoba menahan rasa kesal yang menjalar perlahan. "Biarkan saja, sekarang bukan waktunya. Yang penting kita harus segera pulang. Aku sudah tidak sabar ingin mempertemukan kamu dengan mama dan papa," katanya tegas, berharap dapat menenangkan suasana. Namun ponsel itu kembali meraung, deringannya membelah ketegangan yang hampir pecah. Erika menatap Rey dengan mata yang menuntut. "Kak, jawab dulu! Jangan diabaikan terus." Rey memandang ponsel di tangannya, rasanya seperti dihantam gelombang konflik batin. Dengan berat, akhirnya ia menjawab telepon tersebut. "Syit! Harus sekarang juga? Saya sedang urusan penting!" Suaranya terdengar dingin dan penuh tekanan, menandakan betapa terganggu hatinya. Tapi Erika tak diam saja, suaranya lembut namun penuh pengertian, "Kalau kamu memang ada keperluan penting, pergi saja dulu saja, Kak. Aku akan menemui mama dan papa sendiri." Lagi-lagi Rey mengiyakan meski sangat terpaksa, karena memang ada hal penting yang harus dilakukannya saat ini juga. "Aku minta maaf, ya. Tapi, kamu tenang saja. Kamu tidak akan pulang sendirian, karena ada orang lain yang akan mengantar kamu pulang ke rumah." "Siapa?" tanya Erika bingung. "Hai, Erika. Aku yang akan mengantar kamu pulang." Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang sangat tidak asing di telinga namun sudah lama tidak ditemuinya. Erika menatap ke arah sumber suara dan membuatnya merasa sangat terkejut. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD