Bab 06. Menyerah

1290 Words
Tok,tok,tok! Suara ketukan pintu kamar membelah keheningan. Setelah menghapus air mata dan perasaannya sedikit lebih tenang, Erika beranjak dari tempat tidur, lalu membuka pintu perlahan. Di depan pintu, Bella berdiri dengan tatapan penuh arti, senyum tipis yang penuh kemenangan. "Mau apa kamu datang ke sini? Kamu belum puas menyakiti aku, Bella?" Suara Erika terselip sisa amarah dan luka, bergetar, seakan-akan menyuarakan seluruh penderitaan yang selama ini ia pendam. Tapi Bella tidak menggubris. Tanpa basa-basi, dia malah menyusup masuk ke dalam kamar, langkahnya penuh keyakinan, seperti ingin menancapkan luka baru. "Kamu mau apa? Cepat keluar dari sini, jaga sopan santunmu!" Erika menahan amarah yang meledak. "Hei, tenang saja! Sekarang, ini memang kamar kamu. Tapi, sebentar lagi akan menjadi milikku." Bella membalas dengan penuh sarkasme, matanya menyipit penuh arti. Suasana memanas. Erika menggenggam tangannya erat, rasa marah dan rasa sakit menyatu seperti badai di hatinya. "Kamar ini sangat luas, ya? Aku suka. Kalau aku mau, pasti aku akan langsung memilikinya," lanjut Bella, sengaja memancing emosi Erika lebih dalam. "Jangan pernah bermimpi!" tegas Erika dengan suara bergetar, penuh tekad dan kemarahan yang memuncak, mengisyaratkan bahwa perlawanan tak akan mudah berakhir. Erika menatap Bella dengan mata penuh nyala, luka dan keberanian bercampur menjadi satu. Ia tahu, pertarungan ini baru saja dimulai dan darah serta air mata akan menjadi saksi dari setiap langkah yang diambil. Dalam keheningan yang mematikan itu, hatinya berteriak keras, menantang dunia bahwa ia tak akan pernah menyerah walaupun cinta dan kenyamanan telah direnggut. "Erika, apa kamu percaya? Kalau sekarang aku melakukan sesuatu, Kak Reno pasti akan langsung datang ke sini dan lebih percaya dengan ucapanku daripada kamu!" kata Bella dengan rencana licik di otaknya. "Aku percaya. Karena ini bukan pertama kalinya. Apa lagi yang kamu rencanakan sekarang? Apa kamu tidak pernah puas memfitnahku?" Erika menatap tajam, seolah darahnya mendidih oleh rasa kecewa yang mendalam. Bella hanya tersenyum penuh misteri, tanpa kata, dia memukul pipinya sendiri berulang-ulang, lalu menabrakkan tubuhnya ke dinding dengan keras, setelah mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Suaranya tercampur air mata, "Ampun, Erika! Ampun, aku salah … aku tahu aku salah!" Tiba-tiba, pintu kamar terdobrak keras. Reno masuk dengan mata membelalak, penuh kekhawatiran. Dia menyambar bahu Bella, suaranya penuh waspada, "Bella! Kenapa kamu di sini? Bukannya tadi kamu di kamar? Apa yang terjadi?" Wajah Bella memucat, berisi ketakutan dan kesedihan yang dalam. Dengan suara tersedak, dia berbisik lemah, memulai sandiwara, "Maaf, Kak .... Aku cuma mau minta maaf. Mungkin ucapan aku tadi menyakiti Erika. Aku juga mau izin menginap di sini, tapi dia malah marah, bahkan memukul dan mendorong aku begitu saja." Reno tersentak, dia menatap istrinya tajam. "Apa yang kamu lakukan, wanita sialan!" Tak membela diri, Erika hanya mendengar perkataan Reno dengan hati yang dingin. Namun di balik itu, dadanya terasa teriris oleh luka yang tak tersembuhkan. Senyum sinis melintas di bibirnya, seolah-olah semua fitnah dan hinaan itu hanyalah angin lalu yang tak berarti. Tapi di hatinya, api kemurungan berkobar, menantang seluruh dunia. Reno dengan angkuh menunjuk ke arah Erika, menebar ancaman dan luka baru dalam luka yang sudah menganga. "Aku akan memberimu pelajaran!" ucapnya tajam, suaranya penuh dendam dan kekejaman. Sebelumnya Reno membantu Bella bangkit, lalu berbalik dan mendekati Erika, matanya menyala penuh niat menyakiti. "Kamu benar-benar keterlaluan, Erika! Kamu tahu 'kan, apa kesalahanmu?" hardiknya dengan penuh kebencian yang menggelegar. "Apa salah Bella? Dia hanya ingin meminta maaf. Kenapa kamu selalu menyakitinya? Semua masalah ini berawal dari sikapmu sendiri. Jadi, jangan pernah melampiaskannya pada orang lain!" Kata-kata Reno meluncur seperti pisau tajam yang menembus relung hati Erika. Sementara itu, Bella tersenyum puas, merasa kemenangan menghantui setiap langkah Reno. Ia merasa benar-benar di atas angin, percaya sepenuh hati bahwa Reno telah membelanya habis-habisan. Di balik senyum Bella yang puas, terdengar gema keputusasaan Erika yang penuh luka, seolah-olah dunia runtuh dan tak ada lagi yang tersisa. "Percuma aku mau mengatakan apa pun. Kamu juga tidak akan pernah percaya," ucapnya dengan suara bergetar, penuh kelelahan dan penyesalan. "Kamu lebih membela pelakor ini dari pada istrimu sendiri!" Mata Reno melotot, amarahnya menggelegar. "Berani sekali kamu bicara seperti itu!" Dengan secepat kilat dia menarik rambut Erika, membuat istrinya itu terpelanting dan menjerit kesakitan. "Lepaskan aku, Mas! Sakit ...," raung Erika, air matanya mengalir deras, campur aduk antara takut dan luka batin yang mendalam. Tetapi Reno, bagai binatang buas yang kehilangan kendali, menarik rambut Erika lagi, lebih kasar, lebih kejam, seperti hendak menenun penderitaan tanpa akhir. Di sanalah, di dalam kamar mandi, seperti yang sudah tertulis pada bab awal, penderitaan lebih kejam menghampiri Erika. Reno sudah seperti kesetanan, ia melampiaskan amarahnya, menampar, mencelupkan kepala Erika ke dalam bathtub berkali-kali hingga napas wanita tersengal, d**a sesak dan napas seakan terseret oleh gelombang kengerian. Erika merasa tubuhnya hampir menjadi bayang-bayang, nyaris kehabisan nyawa dalam genggaman orang yang dulu ia cintai, sekarang berubah menjadi monster yang penuh kekejaman. Sejak satu tahun terakhir, Erika merasa dunia seolah runtuh. Ia telah melewati masa-masa paling gelap, merasakan rasa sakit yang tak terhingga, menanggung penderitaan dari orang yang harusnya melindungi. Kini, hati Reno sudah tertutup rapat, pikiran pria itu dipenuhi kegelapan yang dipupuk oleh wanita jahat yang membolak-balik semuanya dalam hatinya. Erika ingin berteriak, ingin melarikan diri dari semua itu, tapi tubuh dan jiwanya telah berpisah, hanyut dalam lautan luka yang tak kunjung reda. Kini dia pun menyerah, tak sanggup lagi menjalani kisah rumah tangga yang sangat memilukan. * "Kalian berdua memang pasangan yang serasi Bella, Reno. Sama-sama kejam, munafik dan parasit. Aku pastikan, kalian tidak akan pernah hidup tenang! Semua kejahatan yang kalian lakukan padaku, akan kalian bayar dengan darah dan air mata!" batin Erika, tekadnya menggelegak seperti api yang takkan pernah padam. Setelah mengganti pakaian yang basah kuyup dan menyeka luka merah di sudut bibirnya, bekas tamparan suaminya yang kejam tanpa ampun, Erika menjatuhkan tubuhnya yang lemah di atas ranjang. Rasa sakit itu membakar, namun tak meredam bara amarah dalam dadanya. Dengan napas berat, ia memejamkan mata, mencoba merangkul tidur yang tak kunjung datang. Hatinya sudah terpaku pada satu hal: pagi yang akan membuka lembaran baru penuh balas dendam yang sudah dia rancang dengan penuh cerdik. Dunia mungkin ingin meremukkannya, tapi dia tak akan jatuh. Tidak hari ini, tidak akan pernah. *** Pagi itu, Reno sudah bangkit lebih dulu dari biasanya, wajahnya tegang dan mata penuh semangat. Sebagai CEO yang baru diangkat, dia tahu betul betapa pentingnya menunjukkan kedisiplinan, tak boleh ada satu pun detik terlambat di hari yang menentukan ini. Dengan langkah pasti, ia mendekati kamar Bella, dan saat pintu terbuka, dia disambut oleh sosok wanita itu yang juga tampak rapi dan siap menghadapi hari. "Pagi, Sayang. Kita sarapan dulu, 'kan?" tanya Bella dengan suara manja. "Ya, tapi kita sarapan di luar saja. Aku masih ada waktu sebentar sebelum rapat dan mengantarmu," jawab Reno, berusaha terdengar santai namun penuh tekad. Bella mengusulkan, "Kenapa kita nggak sarapan di rumah saja? Setidaknya, itu akan lebih hemat dan tidak mubazir. Erika juga selalu membuatkan kamu sarapan walaupun kamu nggak pernah menyentuhnya lagi, 'kan?" Lalu, dia tersenyum kecil yang menyiratkan sesuatu. "Lebih baik uang itu kamu kasih saja ke aku. Aku mau shopping, Sayang." Reno tersenyum, meski ada getaran tak pasti di dadanya. "Apapun untukmu, aku akan lakukan," katanya, penuh pengorbanan. Bella merasa senang. Mereka bergandengan tangan, melangkah ke ruang makan. Namun ternyata, kosong melompong. Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada aroma sarapan, tidak ada bau rempah yang menggoda. Reno dan Bella saling berpandangan bingung, lalu Bella melontarkan pertanyaan dengan suara pelan, "Kak, ini serius? Erika nggak buat sarapan?" Namun, kekosongan yang menggantung itu membuat suasana tiba-tiba terasa dingin dan penuh misteri. Hati Reno terasa gelap dan pertanyaan itu seperti peringatan halus bahwa hari ini, sesuatu yang tak terduga sedang menunggu di balik tirai keheningan. "Ini tidak seperti Erika biasanya. Walaupun dia marah, dia akan tetap membuatkanku sarapan. Apa yang terjadi dengan Erika?" batin Reno, mendadak merasa khawatir. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD