Kalau sudah seperti ini, apa lagi yang bisa dipertahankan? Sudah hampir setahun terakhir pernikahan mereka, Erika menelan kepedihan, menjalani kehidupan bagai neraka yang tak kunjung reda. Hatinya menahan rasa sakit yang menggerogoti hati, sementara bayang-bayang penderitaan semakin memburam seiring waktu.
Kalau hanya sikap dingin Reno, ucapan kasar yang terlepas dari bibir suaminya itu, mungkin Erika masih bisa bertahan. Berharap bahwa suatu saat segala kekejian itu akan berlalu dan Reno akan kembali mencintainya. Tapi apa yang terjadi kini? Sikap pria itu semakin menjadi-jadi, tanpa tahu diri, tanpa peduli perasaan istrinya sama sekali. Reno semakin brutal, menyakiti Erika bukan hanya secara fisik, tapi juga menusuk ke dalam jiwa.
Yang lebih menyakitkan dari apapun, Reno sama sekali sudah tak pernah menyentuh Erika sebagai istri, malah dengan terang-terangan membawa wanita lain ke dalam rumah mereka, bahkan sering menghabiskan waktu di dalam satu kamar. Reno dan Bella, bergandengan dalam keheningan yang penuh makna, menampakkan wajah kebahagiaan, sementara Erika menyaksikan dari kejauhan, hatinya teriris berkeping-keping.
Tak hanya diam, Erika sering mencoba mencegah, berteriak dalam keputusasaan, tapi ucapan dan keberadaannya dianggap angin lalu, seolah-olah dia tak pernah ada, tak pernah berhak merasa sakit. Dunia Erika hancur perlahan, teredam oleh kenyataan pahit bahwa cinta yang pernah ia bangun begitu indah, kini jadi mimpi buruk yang tak berujung.
"Mas Reno, kamu bawa Bella pulang ke rumah lagi? Ini rumah kita, Mas. Aku juga masih di sini, istri sah yang seharusnya berhak atas semua yang jadi milikku! Tapi kamu malah terang-terangan membawa selingkuhanmu seperti itu, tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah! Apa kamu sama sekali tidak memikirkan hati dan perasaan aku?" Erika menatap Reno dengan mata membara, suaranya bergetar penuh amarah dan luka dalam, berharap ada secercah rasa bersalah yang menohok hati pria itu.
Tapi Reno? Dia malah membalas menatap Erika dengan tatapan dingin nan membara, seolah-olah tak ada rasa bersalah sedikit pun, seakan dunia ini miliknya sendiri. "Wanita sialan! Lebih baik kamu diam! Kalau kamu sudah tidak tahan dengan semua ini, pergi saja dari sini! Rumah ini bukan milikmu sendiri dan jangan pernah melarang aku melakukan apa pun yang aku mau. Lagi pula, Bella satu-satunya wanita yang mampu membuatku bahagia, bukan kamu! Kamu hanya membuatku muak!" Dia mengucapkan semua itu dengan suara yang tajam, menusuk ke relung hati Erika, menyakitinya seperti pisau yang merobek kalbu.
Namun, Erika mencoba tenang. Menahan agar amarahnya tak meledak. "Kalau kamu memang ingin bersenang-senang dengan selingkuhanmu, lakukan saja di luar sana! Jangan bawa-bawa dia ke sini, ke tempat yang seharusnya menjadi rumah yang penuh cinta dan harapan!" ucapnya, meski merasa hatinya hancur berkeping-keping di balik kata-kata keras itu, remuk, terluka parah.
Seketika itu, air matanya hampir jatuh. Namun Erika berusaha menyembunyikannya, menahan deru amarah yang berkobar dalam d**a. Ia mencoba tampil tegar, meski di dalam sana, semua rasa runtuh dan terkubur dalam kedam rasa sakit yang tak tertahankan.
Erika menatap dengan mata penuh luka, suara tercekat di tenggorokannya saat Bella melontarkan kata-kata yang menyayat hati.
"Erika … Erika. Kamu itu bodoh banget, ya? Sudah jelas-jelas aku ini satu-satunya wanita yang ada di hati Kak Reno. Sedangkan kamu? Kamu hanya jadi hiasan yang tidak ada artinya lagi di rumah ini!" Suara Bella pelan, tapi setiap kata setajam pisau yang menancap dalam kalbu Erika.
"Sayang, sudahlah. Kamu tidak perlu meladeni dia. Dia hanya tidak sadar diri, makanya tetap bertahan di sini. Padahal, dia bisa pergi kapan saja, tapi dia memilih untuk bertahan. Aku juga tidak peduli dengannya," ujar Reno, menatap Bella dengan lembut. "Sekarang, kita ke kamar saja, ya?"
Kata-kata itu bagaikan cambuk bagi Erika, dia menyeka air matanya yang akhirnya mengalir perlahan, wajahnya bergetar oleh rasa sakit yang tidak tertahankan.
"Iya, Kak. Aku kangen banget sama kamu. Aku nggak sabar mau menghabiskan waktu berdua sama kamu," ucap Bella tanpa rasa malu sama sekali, seakan bangga dengan identitasnya sebagai pelakor.
Reno tersenyum. "Aku juga sangat merindukan kamu. Kamu sih, lama sekali ke luar kotanya." Pria tak tahu diri ini juga membalas tanpa rasa bersalah.
Mereka berdua saling memeluk mesra, bersikap manja seolah memekikkan harapan dan cinta. Tak peduli, ada hati yang tersakiti sana. Justru, mereka sengaja melakukannya.
Kemudian, Reno dan Bella bergegas pergi dari sana, meninggalkan Erika yang masih diam terpaku merasakan dinginnya kehampaan, diabaikan begitu saja oleh dua insan yang lebih mempedulikan dunia mereka sendiri, meninggalkannya dalam keheningan dan luka yang tak kunjung sembuh.
Erika mengepalkan erat kedua tangannya, tubuhnya bergetar menahan gelombang emosi yang mengancam pecah. "Aku masih bertahan di sini karena aku berharap, kamu kembali mengingat cinta kita, Mas," bisiknya pelan dengan suara yang tersendat. "Aku tetap ingin menjaga kamu, seperti amanat dari Dania, walaupun luka ini semakin dalam."
Namun di dalam dadanya, angin kegelapan mulai bertiup kencang. "Tapi kalau terus begini, aku juga bisa menyerah. Aku bukan malaikat, Mas. Aku nggak sekuat yang kamu bayangkan menghadapi sakit ini," gumamnya pelan, seakan berbisik pada hati yang terluka.
Tiba-tiba, tekad membakar di dalam d**a Erika. Tanpa suara, dia mengikuti Reno dan Bella yang menuju ke kamar tamu, yang kini menjadi panggung rahasia di balik pintu tertutup rapat. Hanya dengan rasa penasaran yang membara, Erika melangkah perlahan, menahan napas, merasakan jantungnya berdetak kencang di d**a.
Rumah itu, meskipun bukan sepenuhnya miliknya, tapi lebih besar dari hasil perjuangan dan tetes keringatnya, tabungan yang dia kumpulkan dari menjadi model, mimpi yang dia bangun setiap malam. Rumah itu pun atas namanya, sebagai tanda keberhasilannya. Dia sama sekali tidak rela jika harus di kuasai oleh hama yang sudah merebut suaminya itu.
*
Pintu kamar yang tertutup itu menantang keberaniannya, mempermainkan rasa penasaran yang tak tertahankan. Di balik pintu, rahasia dan luka mungkin sedang terungkap dan Erika merasa hatinya akan pecah menyaksikan apa yang tersembunyi di sana.
Tok, tok, tok!
Erika mengetuk pintu dengan tangan gemetar, namun yang ia dapati hanyalah keheningan yang mencekam.
"Mas, buka pintunya! Apa yang kalian lakukan di dalam? Ini sama sekali tidak pantas!" Suara Erika menggema menyambar ke d**a, memecah keheningan malam itu.
"Pergi kamu dari sini! Jangan pernah ikut campur urusanku lagi, atau aku akan menendangmu keluar dari rumah ini!" ancam Reno, suaranya tergetar oleh marah yang membuncah.
Erika masih mencoba tenang, "Mas … sadar, aku masih istri sah kamu." Suaranya bergetar.
Tetapi Reno tak peduli. "Semua ini akan segera berakhir. Jadi, jangan berharap terlalu banyak!" kata-katanya seperti anak panah tajam yang menusuk ke hati istrinya.
Mendengar kata-kata itu, hati Erika terasa remuk redam. Rasa sakit mengiris, campur aduk antara pengkhianatan dan keputusasaan. Ia tak tahu apakah rumah tangganya masih mampu diselamatkan, apalagi dengan perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga yang akhir-akhir ini sering dilakukan Reno demi melindungi wanita simpanannya. Apakah pria itu masih layak untuk dimaafkan? Rasanya, jika itu bukan Erika, belum tentu ada wanita bodoh yang bisa bertahan.
Pada akhirnya, tubuhnya pun terkulai lemas saat langkah kaki berat meninggalkan ruangan itu, membawa hati yang hancur berkeping-keping. Perasaan hampa menyelimuti setiap hela napasnya, seolah dunia ini kehilangan warnanya dan malam itu menjadi saksi bisu akan kekalahan seorang wanita yang memilih mengakhiri segalanya demi menyelamatkan diri dari jerat luka dan pengkhianatan.
Sementara itu di dalam kamar yang remang, Bella berusaha merayu Reno dengan mata penuh harap dan suara bergetar penuh hasrat. Dia menatap pria yang duduk diam di tepi ranjang, seolah mengancam dunia jika Reno tetap bertahan dalam keraguannya.
"Apa lagi yang kamu tunggu, Sayang? Kita sudah sangat dekat seperti ini, kamu bebas melakukan apa saja terhadapku sekarang. Bukannya kamu sudah muak sama wanita itu, Kak? Ceraikan dia, jangan biarkan dia menghalangi kita untuk bersama!" Suara Bella memelas, penuh permohonan sekaligus dorongan panas yang ingin merebut milik orang lain.
Namun, Reno hanya diam, tatapan kosong menyiratkan keraguan yang membekukan hatinya. Di balik sorot matanya, terselip konflik yang tak terlihat, luka yang belum sembuh. Meski hati kecilnya berontak ingin melupakan masa lalu bersama Erika, tapi benci dan kemarahan mengaburkan rasa cintanya yang masih ada. Mereka berdua terjebak dalam perang batin yang menyakitkan, menyulam luka dan harapan dalam satu napas yang berat.
"Kak, ayo lakukan," rayu Bella. Dia menggoda Reno dengan menampakkan belahan dadanya.
"Istirahatlah. Aku mau mandi," ucap Reno, lalu keluar dari kamar tersebut.
"Cih, berani banget kamu nolak aku, Reno. Kamu hanya boleh jadi milikku! Aku nggak akan biarkan wanita sialan itu merebut kamu dari pelukanku. Nggak akan pernah!" Suara Bella bergetar namun penuh tekad, memancarkan cinta dan obsesi yang membara sekaligus cemas.
Bersambung …