Erika terdiam, hatinya berdebar seperti bom yang siap meledak. Kata-kata Alvaro itu seolah menembus lapisan kalbunya yang paling dalam, menggores rasa yang selama ini tersembunyi, namun dia tak berani percaya begitu saja. Apakah itu benar-benar sebuah pengakuan? Atau hanya sekadar kata tanpa makna yang terselip di antara kebingungan? Ditatapnya Alvaro dengan penuh tanya, ingin sekali ia melontarkan pertanyaan yang bergelora di benaknya. Namun, keberaniannya terkunci rapat oleh ketakutan yang tak bisa ia jelaskan. Di dalam sunyinya, konflik batin Erika mencuat, antara ingin percaya dan rasa ragu yang mencekam. Di sisi lain, melihat diamnya Erika, Alvaro menunduk, seolah menyadari ucapannya tadi terlalu berat untuk ditanggung saat ini. "Maaf, Erika. Aku nggak bermaksud membuat kamu bingung

