Benar kata Mama Sania, hampir semua dress lamaku kini terasa sempit dan tak lagi nyaman di pakai. Bagian perut sedikit ketat, tapi masih bisa ditoleransi. Daripada aku pakai kemeja dan celana lebih baik dress ini saja. Tanganku mengusap perut yang bentuknya bulat. Kalau kata Oma anakku nanti berjenis kelamin laki-laki. Aku sih mau laki-laki atau perempuan sama saja yang penting lahir dengan sehat tanpa kurang apapun. “Nak, sudah siap?” suara Mama Sania terdengar dari luar kamar. “Iya, Ma,” jawabku sambil merahin tas kecil di atas nakas. Begitu keluar, Mama Sania langsung memperhatikanku dari ujung kepala sampai kaki. “Cantik banget kamu, Sayang,” komentarnya. Aku terkekeh pelan. “Maacih, Ma. Tapi ini dress kurang nyaman saat aku pakai.” “Habis dari dokter kita ke butik Mama. Nant

