“Agak ke kiri, Rel! Pilih yang besar-besar aja.” Suara Mas Dirga menggelegar dari bawah pohon rambutan di belakang rumah Mama Sania. Aku duduk di teras sambil mengupas mangga muda—ikut membantu Mama Sania dan Bibi yang sedang menyiapkan asinan buah. Di atas pohon, Mas Farel berpegangan pada dahan pohon dengan satu tangan, sementara tangan satunya memetik rambutan. Sebenarnya bisa metik rambutan dari bawah tapi Pakmil tidak mau. Katanya harus di petik pakai tangan Mas Farel biar rasanya manis. “Pak, ini udah yang paling besar!” teriak Mas Farel dari atas sambil menunjukkan satu tandan rambutan. “Ada yang lebih besar dari itu. Di belakangmu,” balas Mas Dirga. Mas Farel menghela nafas panjang, lalu membalikan badannya, dahannya bergoyang-goyang membuatku sedikit khawatir. “Hati-hati,

