Pagi itu, ruang rapat JeFa EO terasa segar dengan aroma kopi dengan pendamping beberapa makanan hangat yang disiapkan Melati. Para anggota tim kreatif, koordinator lapangan, serta bagian media sosial sudah duduk dengan laptop terbuka, bersiap mengikuti weekly internal meeting yang dipimpin langsung oleh Jemma. Begitu kembali, Jemma langsung menggelar pertemuan besar. Jemma masuk dengan aura tenang namun karismatik. Ia mengenakan blazer cream longgar dengan inner putih, rambutnya diikat rapi. Perutnya memang belum membuncit, orang-orang tidak akan mengira dirinya tengah berbadan dua, tapi sorot mata bahagianya membuat semua orang memperhatikan. Berbeda hanya pilihan sepatunya, tanpa berhak. Jemma teringat tadi Althaf sudah melotot horor saat Jemma mengambil salah satu heels kesayanganny

