ME TIME

2346 Words

“Pakai sambal matah aja. Masih ada kan?” tanya Ben seraya menekan tombol mainan gantung di bouncer putrinya. “Buat cocolan?” balas Anne. Ben menggeleng. “Mau dibalur. Aku aja yang balur, baby.” “Enakan pas baru matang langsung balur, Ben. Biar ngeresap.” “Duduk sini, aku yang terusin aja.” “Ngga apa-apa. Aman kok,” sahut Anne. Pagi itu, kehangatan matahari yang beranjak meninggi terpancar dari balik jendela dapur. Cahaya pagi belum menyorot ke dalam, namun semburat jingga di ujung cakrawala tampak kian menipis. Wangi ayam panggang di oven menyatu dengan sisa aroma seduhan kopi dari mesin espresso. Anne berdiri di depan pemanggang, oven mitt sudah terpasang di tangan, sementara Safa berayun pelan di bouncer, menatap mainan gantung berbentuk awan, ditemani Ben yang bernyanyi merdu samb

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD