Sheya mengerang lirih, pelan-pelan kembali terjaga dari tidurnya dengan keadaan yang lebih baik, namun tidak dengan perasaannya. Perasaannya masih berdarah-darah. Kepalanya memang tidak sesakit sebelumnya, namun kini justru sakit di dalam d**a atas apa yang dilakukan sang bunda menggerusnya pada kepahitan yang mencekik hingga membuatnya merintih. Dia melihat suaminya yang terlelap dengan posisi duduk, berbantalkan lengan di tepi ranjang, Sheya mengusap lembut surai masnya dengan air mata yang kembali jatuh dalam keheningan. Juna terusik saat usapan lembut dia rasakan di kepalanya, dia tidak bisa benar-benar tidur sepanjang malam, sering terbangun atas sedikit saja pergerakan dari Sheya. Kekhawatiran masih menyelimutinya, takut jika Sheya merintih sakit dalam lelapnya. Tidak Juna p

