Juna menatap nanar pada istrinya yang terus menarik napasnya panjang sambil merintih menahan sakit. Dia terus berada di sisi istrinya dan mengusap kening Sheya yang berkeringat semakin banyak. “Bagaimana, Dok?” Tanya Juna dengan raut cemas yang semakin kentara. “Masih pembukaan empat, Pak. Masih harus menunggu, untuk mempercepat jalannya pembukaan bisa sambil dibawa jalan, ya. Nanti ada dokter residen yang akan rutin melakukan pengecekan.” Juna yang mendengar itu speechless, melihat khawatir pada istrinya yang terlihat semakin kepayahan. Setelahnya, mereka ditinggalkan oleh tim medis. “Sayang … Sabar, ya? Masih sanggup untuk jalan-jalan kecil?” Mata istrinya itu terus terpejam dengan kening yang mengernyit sakit. “Sakit, Mas. Tidak kuat untuk bangun.” Lirih Sheya tanpa tenag

