Kinnas menatap Sheya dengan tatapan sayangnya, dia usap-usap lengan menantunya itu lalu beralih mengusap perut Sheya. “Sehat-sehat ya cucu Oma.” Bisik Kinnas membuat Sheya yang mendengarnya tersenyum. “Insya Allah, Ma.” “Kamu juga sehat-sehat, ya, sayang. Kalau bisa tidak usah ke dapur lagi, ya? Biar Juna saja yang mengurus makan kalian. Mama khawatir.” Kinnas menatap menantunya itu sendu. Dia mengetahui tentang trauma Sheya terhadap masakan orang lain, Juna sudah bercerita. Sheya yang mendengar kekhawatiran mama mertuanya justru terkekeh kecil. “Mama tidak perlu khawatir seperti itu, Sheya di dapur, kan, kalau tidak dibantu Mas Juna, ya, dibantu Bi Rumi, Sheya tinggal masak, kalau siang biasanya Bi Rumi yang bantu Sheya menyiapkan semuanya, Ma.” “Ya, sudah, tapi selalu hati-hati

