Juna tidak bisa untuk tidak tersenyum terus-menerus saat melihat putri bungsu dan juga istrinya. Ah, jika dia mampu mengungkapkan bahagia yang dia rasakan kini, mungkin segunung perkataan, ribuan lembar tulisan tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan apa yang dia rasakan kini. Ya Allah … Juna kadang masih tidak menyangka, bahagianya sudah sampai di titik ini, rasa sakit kemarin hilang tak berbekas melihat senyum di wajah istrinya yang semakin hari semakin membaik. “Mas …” Panggilan itu menyentak Juna yang memang sedang tersenyum menatap istrinya. Dia langsung mendekat dan mengecup puncak kepala istrinya. “Kenapa, sayang?” Tanya Juna lembut, dia juga membelai gemas pipi Naira yang chubby. “Tidak sabar ingin pulang. Tidak sabar untuk mengenalkan Naira pada kakaknya. Aku juga s

