Sheya terjaga dan sedikit terkesiap saat mencium bau harum makanan, dilihatnya sang suami yang sudah membawa nampan makanan dan meletakannya di sofa. "Eh, sayang. Sudah bangun?" Juna tersenyum sumringah, lalu menarik lembut Sheya untuk duduk di sofa. "Jeje masih bubuk, sepertinya sangat lelap karena semalam begadang. Kamu sarapan dulu, ya? Mas sudah buatkan sop daging dengan perkedel kentang. Mas suapi, ya?" Sheya terlihat mengerjap bingung. "Ini jam berapa, Mas?" "Jam delapan, sayang." "Astaghfirullah. Sera bagaimana, Mas?" Sheya terlihat panik dengan raut yang merasa berdosa. "Anas aman, sayang. Mas yang urus tadi, sudah Mas antar ke sekolah, tadi juga dia ke sini, kok, tapi hanya mencium kamu dan Jeje lalu berpamitan tanpa membangunkan kalian. Katanya kasihan Ibu pasti lelah h

