Saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, Sheya mengeratkan pelukannya pada Sera lalu berbisik lirih di telinga sang putri. “I love you, Kakak.” Bisik Sheya yang menyadari jika putrinya itu meneteskan air mata, mungkin Sera merasaakan apa yang dia rasakan. Mengenang kilas balik kehidupan mereka hingga akhirnya sampai di titik ini. Dia memahami sang putri sepenuhnya, yang menjadi lebih dewasa secara pemikiran. Pola pikirnya berkembang lebih baik dari anak-anak seusianya. Apalagi secara karakter Sheya semakin melihat jika mereka memiliki kemiripan, like mother like daughter. Sera terlihat semakin perasa, hatinya lembut dan mudah tersentuh oleh hal-hal kecil hingga membuat air matanya mudah menetes. Anak itu mendongak sambil membalikkan badannya dan memeluk ibunya dengan erat. “I

