Bisma mendorong Lara perlahan agar segera duduk saat mereka memasuki kereta cepat dan menemukan nomor bangku yang mereka pesan. Wajah Lara tampak tak nyaman dengan kehadiran Bisma.
Ia merasa tak nyaman bukan karena kejadian kemarin tetapi saat ini ia butuh pulang sendirian ke Bandung dan bersiap-siap untuk bertemu Ega sang ayah. Entah apa yang akan terjadi ketika mereka bertemu dan hal itu yang membuat Lara tak ingin Bisma melihat kondisi keluarganya saat ini.
Lara takut, jika Bisma tahu ia akan memberitahu Anita. Mengingat sifat Anita yang terbuka dan blak-blakan, tak mungkin rasanya jika ia hanya diam saat mengetahui adiknya berselingkuh dengan iparnya sendiri. Jika Anita sampai bilang pada Ajeng, tentu bisa semakin memperumit keadaan, apalagi neneknya sudah tua dan mulai sakit-sakitan.
“Mas, sampai di Bandung kamu langsung bicara saja apa yang ingin kamu ingin bicarakan, setelah itu kita berpisah,” pinta Lara setengah berbisik dengan tatapan penuh mohon pada Bisma.
“Nggak. Mumpung kamu mau pulang kerumah, aku sekalian mau ketemu sama Om Ega dan tante Silvy,” jawab Bisma santai seolah tahu Lara tengah menyembunyikan sesuatu.
“Aku nyesel nungguin mas Bisma! Tahu gitu aku tinggal aja!” gerutu Lara merasa kesal sekaligus cemas.
Tapi Bisma tampak tak peduli, ia malah asik menyesuaikan tempat duduknya agar tidak terasa sempit untuk tubuhnya yang tinggi.
“Kamu tahu, aku tuh punya banyak kucing dirumah. Mas Bisma mau apa alerginya kambuh? Banyak banget loh mas! Bisa sekarat beneran nanti,” ucap Lara lagi tak pantang menyerah.
“Nanti aku pake masker 3 lapis!” jawab Bisma santai.
“Dasar gak tahu malu, kamu tahu aku gak mau ditemenin sama kamu mas! Kamu tuh ganggu tahu gak?! Ganggu!” omel Lara kesal karena merasa hilang akal untuk mengusir Bisma.
Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibir Lara.
“Setiap kamu ngeluh atau ngomong kasar, aku cium kamu!”ancam Bisma menatap Lara tajam.
“Dasar Binat…”
Cup!
“Mas! Jangan kurang aj…”
Cup!
Bisma segera menciumi bibir Lara bertubi-tubi sebelum gadis itu berhasil menyelesaikan ucapannya sampai akhirnya Lara memukul lengan Bisma agar melepaskan genggaman tangannya di leher Lara agar tak berkutik saat menciumnya.
Bisma melepaskan genggaman tangannya lalu menatap gadis itu dalam seraya berkata,
“Kamu pikir aku tidak akan berani melakukan lebih dari yang barusan aku lakukan? Kemarin kita hampir melakukan segalanya bukan?” bisik Bisma.
Lara segera memalingkan wajahnya keluar jendela dan memilih diam. Bisma hanya bisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia ikut diam dan menikmati perjalanannya menuju Bandung.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di stasiun Bandung. Langkah Lara semakin lambat dan terasa berat. Rasanya ia tak ingin cepat-cepat sampai ke rumah.
“Mana alamat rumahmu? Berikan padaku,” pinta Bisma agar ia bisa memesan taksi online.
Lara hanya diam, raut wajahnya terlihat sangat murung.
“Lara, ada apa?” tanya Bisma perlahan.
“Mas! Apapun yang kamu dengar nanti kamu tidak boleh menceritakannya pada siapapun!” ucap Lara tiba -tiba sambil menatap Bisma tajam.
“Apaan sih kamu? Aku dengar apa?!”
“Janji dulu! Kalau kamu gak bisa janji lebih baik kita berpisah disini! Kalau kamu sudah janji dan sampai ada orang lain yang tahu, itu pasti dari kamu!” ancam Lara tampak gelisah.
“Memangnya aku akan dengar apa?”
“Janji dulu!” hardik Lara.
“Iya, aku janji!” jawab Bisma gusar.
Mendengar jawaban Bisma, Lara segera menarik tangan pria itu menuju taksi biru agar bisa langsung berangkat menuju rumahnya.
Sepanjang perjalanan, Lara hanya bisa diam seribu bahasa. Ia mencoba mengendalikan dirinya dan menyusun kata-kata jika ia bertemu ayahnya. Tapi tak bisa, tenggorokannya terasa tercekat, dadanya terasa semakin sesak dan ingin menangis.
Melihat sikap Lara yang menundukan kepalanya begitu dalam, membuat Bisma hanya diam tak melontarkan satu patah kata pun. Sikap Lara yang biasanya tanpa aturan kini tampak sangat berbeda.
“Sampai mbak, yang ini rumahnya bukan?” ucap sang supir taksi memberitahu Lara dan berhenti di depan sebuah rumah asri di salah satu komplek perumahan lama yang nyaman ditengah kota Bandung.
Bisma menatap rumah itu dengan pandangan kagum, karena rumah kediaman Lara seperti miniatur rumah Ajeng. Hanya rumah ini lebih sederhana, dan lebih hijau penuh dengan tanaman rimbun di dalam pot.
Sedangkan Lara hanya bisa diam dan bolak balik memalingkan wajahnya. Tenggorokannya terasa semakin tercekat dan matanya tampak berkaca-kaca. Rumah itu biasanya tempat yang paling ia rindukan karena begitu hangat dengan kasih sayang kedua orang tuanya tapi kali ini menjadi tempat yang tidak sanggup ia masuki. Lara turun perlahan dan tak mempedulikan Bisma yang mengikuti langkah gontainya dari belakang.
Gadis itu segera memberikan salam dan membuka pintu depan diikuti Bisma.
“Lara, kamu pulang?” sapaan suara bariton dari dalam rumah membuat Lara dan Bisma menoleh bersamaan.
Lara hanya bisa diam terpaku melihat ayahnya –Ega berdiri menatapnya penuh rindu.
“Aku pulang pa, ini mas Bisma datang menemaniku. Mas Bisma ini anak kakaknya Om Imam dari Tante Laila,” jawab Lara datar dengan raut wajah dingin mengenalkan Bisma pada ayahnya. Suara gadis itu terdengar pelan.
“Apa kabar Bisma, selamat datang. Ayo masuk, mamanya Lara sedang kepasar, mungkin tak lama lagi pulang. Ayo duduk dulu,” sapa Ega ramah.
Bisma tersenyum ramah dan menyalami Ega. Ia tampak terpukau melihat wajah Ega yang begitu mirip dengan Lara. Di usianya yang sudah hampir 55 tahun, pria ini masih sangat tampan.
“Lara, kamu gak mau peluk papa?” tanya Ega menatap Lara sedih melihat anak semata wayangnya yang biasanya begitu manja kini bersikap sangat dingin. Perlahan Ega menghampiri Lara dan mencoba memeluknya, tetapi Lara segera menghempaskan tangan Ega seolah tak ingin disentuh olehnya.
Bisma hanya bisa memalingkan wajahnya karena merasa tak enak hati dengan sikap Lara pada ayahnya.
Tanpa bicara Lara segera berjalan menuju ke dalam rumah, sedangkan Ega tampak canggung berusaha tersenyum mengajak Bisma berbincang, walau Bisma bisa melihat ada raut sedih dan kecewa dari Ega karena ditolak anaknya.
“Mau minum apa? Biar Om buatkan, karena dirumah ini tidak ada pembantu,” ucap Ega sambil tersenyum pada Bisma.
“Gak usah Om, jangan merepotkan. Kami sudah minum saat di woosh tadi,” ucap Bisma menolak halus tawaran Ega.
Terdengar ada suara- suara bak buk di dalam salah satu kamar membuat Ega dan Bisma menoleh ke arah suara.
“Saya tinggal sebentar ya,” pamit Ega tampak cemas masuk ke dalam rumah meninggalkan Bisma sendirian.
Bisma segera menatap ke sekeliling. Rumah ini walau sederhana tapi terasa hangat karena semuanya terawat dan bersih. Ia segera berdiri dan menatap puluhan foto Lara dari bayi hingga ia dewasa bersama orang tuanya ada disana. Terlihat mereka terlihat sangat harmonis dan serasi, benar-benar seperti keluarga idaman.
Sedangkan di dalam kamar, Lara tengah mengambil semua barang-barangnya dengan asal dan memasukannya ke dalam koper besar.
“Apa- apaan ini lara?!” tegur Ega ketika melihat anaknya tampak ingin mengosongkan kamar.
“Aku mau nge kost pa, dan semua barang-barang ini aku bawa. Aku tak akan kembali lagi kesini,” ucap Lara walau tak meninggikan suara tetapi ia terlihat sangat emosional.
“Lara, biar papa jelaskan…”
“Nggak! Nggak! Nggak!” pekik Lara sambil segera menutup kupingnya dan menatap sang ayah penuh kemarahan. “Aku gak mau dengarkan apapun penjelasan dari kalimat Papa!”
“Lara–”
“Mau apa lagi yang papa jelasin?! Papa gak tahu betapa takutnya aku dengan pikiranku setiap menutup mata sebelum tidur! Genggaman tangan itu sudah menunjukan sesuatu! Aku berdiri lama didepan kamar tante Frida pa! Aku bisa mendengar semuanya!”
Ega terdiam dan menatap Lara dengan pandangan berkaca-kaca. Sedangkan Lara sudah mulai menangis karena menahan amarah.
“Setiap malam aku berusaha menepis pertanyaan di dalam kepalaku? Sejak kapan ini terjadi? Kenapa pa? Aku takut melihat sikap papa dan tante Frida yang begitu tenang melakukannya, menandakan kalian sudah terbiasa. Bagaimana aku dan mama? Apa arti kami buat papa?!”
“Kamu dan mamamu segalanya buat Papa! Kami mengakui kami khilaf! Tapi cuma saat itu dan tak akan ada lagi!”
“Agggh! Diam pa! Diammm! Lara jijik sama Papa!” jerit Lara histeris menutup kupingnya dan menutup mata tak ingin mendengar ucapan ayahnya.
“Lara…” isak Ega mencoba memeluk anak gadisnya, ia merasa bersalah dan berdosa dan merasa sakit yang luar biasa melihat Lara begitu membencinya
“Ceraikan mama pa! Ceraikan mama! Biar mama Lara yang urus! Papa tinggal saja bersama kekasih papa itu!” ucap Lara penuh kemarahan.
“Tidak! Sampai kapanpun Papa tidak akan menceraikan mamamu! Papa mencintainya!”
“Tai kucing! Pembohong! Aku benci papa! Benci Pa! Tuhan jahat sama Lara karena mengirimkan papa sebagai Ayah! Benciii!” teriak Lara histeris tak bisa mengendalikan dirinya dan mulai melempari Ega dengan barang-barang disekitarnya. Sedangkan Ega masih mencoba untuk mendekati anaknya.
“Lara! Tunggu!” panggil Ega ketika Lara mendorong Ega menjauh dan berlari keluar dari kamar.
Diluar kamar Bisma tampak termenung mendengar pertengkaran anak dan ayah itu. Tanpa mempedulikan Bisma, Lara segera berjalan keluar rumah dengan wajah yang begitu merah penuh amarah.
“Laraaa,” panggil Ega.
“Biar saya saja Om,” cegah Bisma.
“Saya harus bicara dengan Lara!”
“Biar saya saja Om! Jika Om memaksa hanya akan membuatnya semakin marah dan sakit hati!”
Ega hanya menatap Bisma dengan tatapan sedih. Bisma menghela nafas sesaat lalu segera berpamitan pada Ega sebelum berlari menyusul Lara yang berjalan tak menentu.
“Lara! Tunggu! Lara!” panggil Bisma sambil menahan langkah Lara.
Gadis itu tampak ngos-ngosan, membuang pandangannya ke segala arah seolah mencoba untuk mengendalikan dirinya.
“Tenanglah,” ucap Bisma mencoba menggapai lengan Lara, tapi gadis itu menepisnya dan masih berjalan kesana kemari sampai Bisma menarik tubuh Lara dan memeluknya erat.
Lara memberontak dan mencoba melepaskan pelukan Bisma.
“Lepaskan aku mas! Aku gak apa-apa!” ucap Lara tegas dengan suara parau.
“Kenapa terus memelukku?! Lihat ini bajumu jadi basah!” ucap Lara marah sambil mencoba menghapus tetesan air matanya yang jatuh ke pakaian Bisma.
Bisma bergeming, terus bertahan walau Lara mencakar tangannya agar bisa melepaskan diri. Akhirnya pertahanan Lara luruh juga. Gadis itu menangis sedih menyayat hati dalam pelukan Bisma. Hatinya merasa terluka, karena merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percaya dan yang paling melindunginya selama ini.
Lara yang menangis berteriak tanpa suara menandakan perasaannya benar-benar hancur berkeping-keping. Bisma hanya bisa menatap Lara tanpa kata memeluk Lara sekuat tenaga. Kali ini ia mengerti mengapa Lara menjadi seperti ini. Ini bukan soal cemburu dan di tolak cinta, tapi tentang kemarahan yang besar dari hati yang terluka.
Bersambung.