Bab 18. Isi hati Lara

1739 Words
Bisma masuk ke dalam kamar hotel, dimana dirinya dan Lara tengah mengistirahatkan diri. Setelah menangis begitu hebat, Lara ingin kembali ke Jakarta, tetapi Bisma menahannya dan memilih untuk menyewa sebuah kamar di sebuah hotel untuk singgah yang tak jauh dari stasiun kereta agar Lara bisa memulihkan diri sejenak sebelum mereka kembali ke Jakarta. Di dalam kamar Lara tengah melamun sambil menatap keluar jendela, bahkan tak menyadari kehadiran Bisma. “Lara, ayo minum dulu,” suruh Bisma sambil menyodorkan sebotol air mineral dan sebutir obat paracetamol ke tangan Lara. “Untuk apa obat ini?” tanya Lara sambil menatap Bisma sendu. “Kamu terlalu emosional, apa kamu tidak merasa tubuh mulai demam dan terasa hangat?” ucap Bisma menjelaskan. Lara hanya memalingkan wajahnya sesaat dan segera menelan obat juga minum air mineral sebanyak yang bisa ia teguk. Bisma mengusap rambut Lara perlahan sambil menghela nafas panjang ketika melihat matanya yang begitu bengkak dan sembab karena menangis. Hening, tak ada pembicaraan diantara keduanya. Yang terdengar hanyalah nada pesan yang masuk terus menerus ke handphone Lara. Semua pesan itu dari Ega, tetapi tak satupun yang dibuka oleh Lara. Kali ini bukan nada pesan yang masuk, tetapi terdengar dering telepon. Lara awalnya hanya mendelik sesaat karena berpikir nada dering itu dari Ega, tetapi raut wajahnya kembali tampak ingin menangis ketika nama Silvy muncul di layar handphone. “Akh, mama! Mama menelpon!” ucap Lara langsung berdiri tampak panik menahan air matanya. Rasa rindu pada sang ibu, sekaligus sedih setelah pertengkaran hebatnya dengan sang ayah membuat Lara kembali menangis. Ia ingin sekali mengangkat telepon dari Silvy, tetapi ia tak sanggup untuk berbicara dengan ibunya. Lara takut, yang silvy dengan hanyalah tangisan Lara dan membuatnya menyadari apa yang terjadi. “Lara… tenanglah … jangan angkat telepon dari tante Silvy jika kamu memang belum siap,” bujuk Bisma ikut berdiri dan mencoba menenangkan Lara yang berjalan mondar mandir tak menentu sambil menatap kearah handphone miliknya diatas meja. “Aku ingin bicara sama mama, tapi aku tak bisa…” isak Lara sedih. Dering telepon itu pun berhenti. Dan dalam hitungan detik sebuah voice note masuk ke dalam pesan w******p Lara. Pesan itu dari Silvy. Dengan ragu Lara menekan tanda play di voice note itu. “Sayang, kamu dimana? Papa bilang kamu sudah datang tapi pergi lagi. Kamu sama Bisma kemana? Mama kangen.” Tangisan Lara pecah, gadis itu sampai berjongkok karena tak bisa menahan perasaannya yang sedih. Mendengar suara ibunya yang berbicara penuh rindu tanpa mengetahui apa yang tengah terjadi membuat Lara hancur. “Lara, istigfar!” ucap Bisma sambil menarik Lara untuk berdiri dan mencoba membuat Lara menatap matanya. Bisma terus menerus berbicara di telinga Lara agar gadis itu bisa mengendalikan perasaannya. Remasan tangan Lara di pakaian Bisma membuat Bisma sedikit lega, gadis itu mulai berjuang untuk tak tenggelam dalam kesedihannya dan mencoba mengendalikan dirinya. Lara mulai bisa untuk menghentikan tangisannya walaupun tubuhnya masih terisak-isak. Perlahan Bisma menarik Lara dalam pelukannya dan mengusap rambut gadis itu perlahan. “Ada aku … menangislah sebanyak yang kamu mau, marahlah sebisa yang bisa kamu keluarkan, ada aku disini yang akan menemanimu sampai kamu tenang,” bisik Bisma sedih dan merasa sangat kasihan pada Lara. Lara hanya diam dan masih terisak-isak. Bisma menatap Lara dengan pandangan sedih ketika ia merasakan tubuh gadis itu semakin hangat karena demam. Emosi Lara yang pecah berantakan tak mampu ditahan oleh fisiknya. “Ayo basuh wajahmu, setelah itu kamu harus tidur. Tubuhnya sudah demam,” bujuk Bisma. “Mama … aku harus bicara pada mama,” isak Lara perlahan. “Nanti, kamu akan bicara pada mamamu setelah kamu istirahat.” “Akh, aku ingin pulang mas! Aku ingin pulang ke Jakarta! Aku tak mau disini!” ucap Lara kembali panik. “Iya, setelah kamu istirahat dan tenang, kita akan kembali ke Jakarta. Jam berapapun itu!” bujuk Bisma lagi. Mendengar ucapan Bisma, Lara tampak melunak dan mulai mendudukan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Bisma segera mengambil sebuah handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat lalu memberikannya pada Lara. Perlahan Lara mengusap wajahnya dengan handuk itu dan mulai terlihat tenang. Bisma lagi- lagi memberikan sisa air mineral dalam botol pada Lara. Gadis itu meneguk sampai tandas, lalu perlahan Lara naik keatas ranjang dan mulai meringkuk diatasnya. Bisma segera menyelimuti Lara dan mengusap-usap punggung gadis. “Apa yang harus aku lakukan mas?” ucap Lara lirih sambil menutup matanya. Ada tetes air mata yang kembali mengalir dan jatuh ke atas bantal. Bisma hanya diam dan terus mengusap punggung Lara perlahan. “Mereka yang salah tetapi selalu aku yang kalah,” gumam Lara perlahan. “Kamu harus melawannya Lara,” ucap Bisma pelan. “Bagaimana aku melawannya mas? Wanita itu yang merawat eyang hampir 30 tahun lamanya. Aku tak ingin melawannya mas, aku hanya ingin papaku kembali seperti papaku yang dulu. Aku ingin papaku!” isak Lara sedih dan lirih. Bisma hanya bisa diam tak tahu harus berbicara apa. “Maafkan aku yang membuatmu menjadi alat pelampiasan kemarahanku,” bisik Lara pelan. “Ya?” “Aku tak tahu harus berbuat apa, yang aku tahu dan aku inginkan hanyalah membuat tante Frida sakit hati sesakit-sakitnya! Ia sangat menyayangi Fitri, semakin aku menyakiti Fitri aku harap ibunya ikut sakit sesakit-sakitnya!” gumam Lara dengan mata terpejam terdengar geram walau suaranya pelan. Bisma hanya diam. “Mengapa mereka mendapatkan semua cinta? Cinta papa, cinta Reno … tapi dia juga menginginkan kamu. Betapa seringnya aku berdoa semua kalian berdua jatuh cinta dan ingin bersama, sehingga Reno bisa melihat semuanya!” ucap Lara lagi dan kali ini sambil mencoba meluruskan tubuh dan membalikan tubuhnya. Mendengar ucapan Lara, Bisma segera membuka selimut dan menarik Lara untuk duduk dengan paksa. Lara membuka matanya ketika ia terduduk diatas ranjang dan menatap Bisma dengan pandangan tajam. “Apa kamu bilang?” tanya Bisma tak percaya dengan pendengarannya dan menatap Lara kesal. “Aku berharap kalian jatuh cinta mas! Tolong buat dia jatuh cinta! Biar aku yang menyelesaikan sisanya!” ucap Lara tampak marah. “Tarik ucapanmu Lara!” ucap Bisma sambil meletakan kedua tangannya diwajah Lara dan memaksa gadis itu untuk menatapnya. “Gak!” “ Balas dendam karena marah tak akan membuatmu bahagia!” “Aku gak butuh bahagia! Aku hanya butuh tante Frida bisa merasakan apa yang aku dan mama rasakan!” “Kamu pikir kamu bisa berhasil?! Dendam hanya akan membakar hangus semuanya termasuk dirimu sendiri!” “Aku gak peduli! Aku gak peduli! Tolong aku mas, buat Fitri tergila-gila padamu! Kamu tahu, dia sangat menyukaimu! Bayangkan, dia menyukai Reno dan juga menyukai mas Bisma! Mereka mengambil semuanya … mereka…” Bisma segera menutup mulut Lara dengan tangannya sebelum gadis itu kembali melontarkan ucapan yang tidak-tidak. “Tenanglah Lara, aku tahu kamu sedang sedih,” bisik Bisma sambil kembali memeluk Lara erat. “Akh! Persetan dengan kalian! Semua laki-laki sama saja!” ucap Lara segera mendorong tubuh Bisma ketika ia merasakan pria itu memeluk dan membuat perasaannya menjadi hangat, hal itu membuatnya marah. “Kamu juga sama saja! Yang kamu mau hanya tubuhku, kan?! Kamu selalu membenciku bukan?! Hanya Fitri yang selalu mas Bisma percaya! Kamu mau tubuhku?! Nih aku beri!” ucap Lara marah sambil membuka kancing kemejanya. “Lara! Diam! Stop!” hardik Bisma keras sambil menahan tangan Lara dan membuat Lara yang awalnya marah tak menentu jadi terdiam karena terkejut dengan suara keras Bisma. “Aku tahu kamu sedang sedih! Aku tahu kamu marah! Tapi kendalikan dirimu!” ucap Bisma menatap Lara marah. Perlahan Bisma kembali memeluk Lara dan mencium ubun-ubun perempuan itu lembut. “Tenanglah … aku tahu kamu sedang kacau … maafkan aku ya… maafkan aku dengan semua sikap burukku,” bisik Bisma perlahan. Lara hanya diam dan lagi-lagi ia mendorong tubuh Bisma agar menjauh lalu perlahan ia kembali membaringkan tubuhnya yang terasa lelah se-lelah jiwanya. Bisma kembali menyelimuti Lara. “Tidurlah, aku akan menunggumu disini,” bisik Bisma sambil kembali mengusap punggung Lara. Lara hanya diam dan merapatkan selimutnya karena tubuhnya mulai menggigil tak nyaman. Sedangkan Bisma hanya bisa menatap Lara dalam. Tadi pagi ia memaksa ingin bertemu perempuan ini karena mencoba mencari jawaban atas sikapnya pada Bisma selama ini. Kini ia benar-benar diberikan jawaban atas semua sikap Lara padanya. Waktu pun berlalu, Bisma dan Lara pulang dengan Woosh paling akhir malam itu. Tak ada pembicaraan diantara keduanya. Bisma mengantar Lara pulang kerumah kediaman Ajeng dan menatap gadis itu khawatir ketika Lara hendak turun dari mobil di depan gerbang. “Lara, dirumah mamaku masih ada kamar kosong yang bisa kamu gunakan jika malam ini sedang tak ingin pulang,” ucap Bisma tiba-tiba sambil menahan lengan Lara. Lara terdiam dan menatap Bisma dalam, lalu tersenyum lembut pada pria itu. “Aku gak apa-apa kok mas, aku sudah tenang dan ikhlas. Terimakasih ya sudah menemaniku hari ini, tapi semuanya sudah selesai, aku sudah tahu apa yang aku mau. Tenang saja,” ucap Lara terdengar tenang dan tulus. “Apa kamu yakin?” tanya Bisma masih cemas. Lara mengangguk pasti dan kembali tersenyum sambil menatap ke arah rumah besar itu. “Maafkan aku kemarin yang banyak tingkah dan membuatmu susah. Akh, leganya…,” gumam Lara sambil menghela nafas panjang seolah mengeluarkan beban berat di dadanya sebelum ia turun dan tak menoleh lagi ke arah Bisma. *** Pagi pun menjelang. Bisma tampak terburu-buru untuk segera sampai di kantor. Menemani Lara kemarin ternyata membuat tubuhnya ikut lelah sehingga ia terlambat bangun pagi ini. “Pagi pak, “ sapa Fitri ketika melihat Bisma yang datang tergesa-gesa dan segera mengikutinya masuk ke dalam ruangan kerja Bisma. “Maafkan aku datang terlambat, apa persiapan meeting kita sudah ada?” tanya Bisma cepat mencoba fokus pada pekerjaan mereka. “Sudah, kita masih ada waktu 15 menit lagi,” jawab Fitri cepat. “Baiklah, kalau begitu beri aku waktu untuk menyegarkan diri sebentar,” pinta Bisma yang menandakan bahwa ia sedang ingin sendirian saat ini. Tiba-tiba handphone Bisma berdering nyaring, dan Bisma segera mengangkatnya tanpa melihat nama yang muncul di layar. “Bisma ini Eyang Ajeng. Maafkan Eyang mengganggumu pagi-pagi. Silvy bilang kemarin kamu ke Bandung bersama Lara? Dimana dia sekarang? Orang tua nya mencoba menghubungi Lara, tapi dia tak bisa dihubungi. Eyang jadi cemas.” “Loh, tadi malam aku mengantarnya sampai depan rumah Eyang,” ucap Bisma bingung. “Masa? Security bilang dia tidak masuk ke dalam, mereka pikir dia pergi lagi bersamamu.” Bisma terdiam. Jantungnya kali ini berdetak sangat cepat. Sikap Lara yang tak biasa kemarin membuat Bisma cemas. Lara, apa yang kamu rencanakan kali ini? Kemana kamu? Pikir Bisma tak menentu. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD