Pintu kamar yang di ketuk cukup kencang membangunkan Lukman dari tidurnya. Setelah keresahan dan kegundahan yang melanda, tak terasa Lukman ketiduran. Dan kini ia mengerjab dengan malas beringsut bangun. Sambil mengucek matanya yang masih berat, Lukman membuka pintu. Wajah Ray menelisik menatapnya. "Kau tidur, Luke?" "Hmm. Jam berapa sekarang?" tanya Luke lalu menguap lebar. "Jam empat." "Apa?" Lukman memijit pelipisnya. Ia tak menyangka bisa ketiduran sampai sesore ini. Keluar dari dalam kamar dan membuka lemari pendingin. Menenggak air putih dalam kemasan botol lalu membawanya. "Ray! Aku pulang dulu." "Ikut!" rengek Ray. "Apa?" "Kau ini pelit sekali. Numpang makan malam di rumah. Sekalian aku ingin bertemu Raina dan mami." "Untuk apa kau ingin bertemu mereka?" "Ish ka

