Perasaan Yang Tak Bisa Disangkal Lagi

2245 Words

Setelah beberapa lama, tangis Edrea mereda menjadi isakan pelan. Oz membawanya ke sofa, mendudukkannya, lalu mengambil sebotol air dan selembar tisu. “Minum,” perintahnya dengan suara lembut. Edrea menuruti perintahnya, tangannya masih gemetar. “Mau cerita?” tanya Oz, duduk di depannya, di atas meja rendah, matanya begitu perhatian tak cuek seperti biasanya. Dan dengan suara tersendat-sendat, Edrea menceritakan semuanya. Kesalahan bodoh itu. Teriakan Gareth. Kata-kata yang melukai hatinya. Rasa malu yang begitu dalam. “Aku merasa sangat … bodoh,” bisiknya pada akhirnya. “Aku merasa seperti orang yang tidak kompeten. Dan ini adalah kesalahan pertamaku sekaligus terakhir. Tuan Gareth mengancam akan mendepakku lagi ke kantor cabang jika aku melakukan kesalahan lagi. Padahal aku ini kesal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD